Automatic translation of this blog page

Selasa, 03 Januari 2012

OBAT TRADISIONAL DARI ANEKA JENIS BUAH


oleh Tarmizi, B.Sc., S.Pd 


     Kalau  kita membicarakan mengenai buah, terbayang oleh  kita bahwa  buah  itu adalah hasil dari tanaman,  baik  berupa  pohon, bahwa  buah  itu adalah hasil dari tanaman,  baik  berupa  pohon, atang palsu ataupun herba. Kebanyakan buah berbentuk bulat hing-ga  lonjong, berasa asam, manis, pahit, kelat. Secara  umum buah dapat dimakan, namun tidak semua buah yang dimakan oleh  manusia. Apa  misalnya? Buah hati, buah baju, buah tangan?  Mungkin saja,  tapi buah  sungguhan ada yang tak dimakan, karena keras atau  beracun, mungkin pula karena tidak enak.
     Pada  tulisan ini akan kita bicarakan mengenai  buah  nenas, buah pisang, buah durian, buah manggis, buah delima, buah  belim-bing  manis,  buah  jambu mete, buah  juwet,  buah  pinang,  buah mengkudu, buah jagung dan buah kedaung.

     Nanas  (Ananas  comosus  Merr)  termasuk  ke  dalam   famili Bromeliaceae,  yang  di  Sumatera disebut  ekahauku,  anes,  nas, henas,  kenas,  honas,  hanas, gona, asit,  masit,  enas,  kanas, nanas, naneh, kanyas dan nyanyas. Di Jawa dinamakan danas, ganas, nanas   dan  lanas,  sementara  di  Kalimantan  sebagai   kanas, samblaka, malaka, uro usan, kayu usan, kayu ujan dan belasan.  Di Nusatenggara  disebut  manas, nanas, aruna, fanda  pandal,  panda jawa,  nana,  peda,  anana, pedang,  parangena  atau  nanasi,  di Sulawesi  sebagai tuis mongondow, na'asi, nanasi, tuis,  tuis  ne walanda,  busa,  pinang,  nanati, lalato,  pandang,  edan,  ekam, hedan,  esne  dan ngewu. Orang maluku menyebutnya ai  nasi,  thanbababa,  kai  nasi, bankalo, kampora, kanasoi,  anasu,  banggala, bangkala, kai nasu, kambala, kampala, arnasinu, kanasi, kurnasin, mangala, nanasi, nanasu, anasul, kalnasi, nanaki dan nanas.  
     Buah  nanas  diduga  berasal  dari  lembah  sungai   Parana-Paraguay,  Amerika Selatan, berupa terna yang kuat,  dengan  daunberduri  semu yang berdaging semu, mengandung gula, bromelin  danvitamin C, dengan nama simplisia ananas fructus, buah nanas. Buah nanas  masak  berkhasiat peluruh air seni  (diuretik),  pembersihdarah (depuratif) dan penambah nafsu makan (stomatik).  Sedangkan buah  nanas muda berkhasiat memacu enzim  pencernaan  (ateratif), obat  cacing  dan pencahar (purgatif),  sementara  daunnya  untukpenurun  panas  (anestesik). Perlu diingat,  bahwa  wanita  hamil jangan memakan buah nanas muda, berbahaya terhadap kandungannya.

Obat difteri
     Bila anak Anda demam badannya, lalu terlihat  tenggorokannya ternyata  meradang  bengkak,  itu  tandanya  ia  terserang  kumantenggorokan.  Diantaranya mungkin terserang kuman difteri.  Kuman ini, Corynebacterium diphtheriae, menyerang selaput lendir  yang bertugas  melindungi daerah tenggorokan. Bakteri itu  menyebarkanracun yang dapat menyerang seluruh tubuh.
     Sebenarnya  penyakit  ini lebih sering  menyerang  anak-anak daripada orang dewasa. tetapi karena anak-anak pada umumnya sudahdiimunisasikan   secara  rutin  dengan  suntikan  DPT   (difteri, paratifus  dan  tifus)  di sekolah  wajib,  maka  biasanya  tidak
diserang.  Tetapi siapa tahu, suatu ketika ia terserang juga?  Ia harus  segera  dibawa  ke  dokter.  Dalam  keadaan  darurat   danperlindungan  sementara,  penyakit ini  dapat  diperingan  dengan minum sari nenas.
     Buah  nenas  yang  asam manis, asam  karena  vitamin  C  dan manisnya karena glukosa dan sedikit fruktosa. Disamping itu  juga mengandung bromelin, sejenis enzim pemecah protein. Sifat pemecah protein inilah yang digunakan untuk melunakkan daging yang  alot.
     Selain memecah protein, bromelin juga memecah protein dari  tubuh kuman-kuman,  termasuk  tubuh Corynebacterium  diphtheriae,  yang plasma selnya juga berupa protein. Itulah sebabnya bromelin dalam sari  buah  nenas  bersifat anti radang,  karena  mampu  menumpas kuman, penyebab peradangan itu.
      Buah  yang sudah masak dikupas, dicuci bersih dan  diparut,  laludiperas sarinya. Sebaiknya disaring agar tak bercampur  ampasnya.
Sari ini dipakai untuk berkumur-kumur dan buang keluar, lalu sari nenas sisanya diminum. Lakukan tiga kali sehari, tiap minum perlu setengah gelas sari nenas.

Obat cacing gelang
     Adanya   Cacing  gelang  dalam  tubuh  dapat  dilihat   dari gejalanya.  Nafsu makan berkurang, kejang dan nyeri  pada  perut, mual dan muntah-muntah, badan kurus, muka pucat dan perut buncit, kadang kala sesak nafas.
     Sebuah  nanas muda yang sudah besar dikupas dan parut.  Beri madu  dua sendok makan, peras dan saring airnya. Air perasan  ini diminum sekali sehari. Obat ini tak boleh diminum oleh ibu hamil.

DURIAN
     Tanaman  durian  (duriozibethinus  Murr)  termasuk  famili bombacaceae.  Ada  secuil  cerita yang cukup  menarik  dari  buah durian.  Buah  yang  dipenuhi duri  ini  konon  dulunya  dijuluki sebagai buah busuk dari segala yang terbusuk. Tak ada orang  yang
berani mencicipinya. Baunya bak ramuan bawang putih dicampur keju yang   sudah  disimpan  lama.  Baru  setelah  ada  seorang   ahli pengetahuan  alam yang bernama Alfred Russel Wallace  tanpa  ragu mencoba  makan  daging  buahnya saat ia  meneliti  kehidupan  di belantara  Malaya.  Ia  mengatakan  buah  durian  "Nikmatnya   tak
tertandingi." maka tersohorlah sejak itu durian sebagai "The King of fruit".
     Di  dalam  daging  buah durian  terkandung  mineral  kalium, fosfor, besi, vitamin B-2 (riboflavin), vitamin C, vitamin A  dan protein  disamping gula. Tiap 100 gramnya mengandung kalori  134, sementara  pisang  ambon  hanya 99, salak 77 dan  apel  58  serta belimbing 36 kalori.

Pencegah stroke
     Menurut pakar dari Universitas California, Amerika  Serikat, satu porsi buah yang mengandung kalium tiap hari bisa  mengurangi risiko  stroke.  Namun  perlu diingat bahwa  daging  buah  durian mengandung  senyawa  alkohol yang dapat  memabukkan,  jika  makan terlalu banyak. Bagi penderita sakit kulit seperti kudis,  koreng dan sejenisnya, jangan makan buah durian. karena akan memperparah penyakit  Anda. Begitupun bagi Anda yang sesak nafas,  disarankan supaya  tidak makan biji durian yang dapat  menyebabkan  kumatnya sesak nafas.
     Tanaman Juwet (Syzygium cumini) berupa pohon bergaris tengah hingga  60  cm  dengan  tinggi bisa 15  m.  Varietas  yang  sudah dibudidayakan  yang berbuah besar sebesar buah rambutan (l,k  2,5 cm).  Warnanya  biru  keunguan (juwet biasa)  atau  hitam  (juwet ireng). Varietas lain (juwet daging) berbuah ungu dan malahan ada yang  putih (juwet bawang). Yang satu ini sulit  diketahui  kapan masaknya.
     Juwet atau jamblang,  yang di Sumatera Barat dikenal  dengan jambu kaliang yang banyak dijual sebagai buah meja. Buahnya sebesar anggur,  bewarna  ungu  sampai hitam  dengan  rasa  sepet  (kelat manis).  Rasa  sepet ini disebabkan adanya tanin,  zat  penyamak.
Untuk menghilangkan rasa sepet ini, buah yang sudah masak dikocok dulu  dengan  garam diantara dua cawan yang  saling  ditangkupkan atau  dalam  botol. maka getah yang sepet itu akan  akan  diserap oleh garam, sehingga dapat dinikmati manisnya.

Anti ngompol
     Terlalu  banyak  makan  juwet, tanin yang  kita  telan  akan mengganggu juga,  karena  ia  bersifat  astringen   (mengerutkan) saluran kencing, lalu menghambat pengeluaran-nya.
     Justru  sifat inilah yang kemudian dimanfaatkan  oleh  nenek moyang  kita  untuk mengobati "penyakit"  beser‚  (sering  kebelet kencing) pada orang dewasa dan "penyakit" ngompol‚ pada anak-anak.
     Biji juwet mengandung semacam sterol yaitu  alfa-phytosterol‚ yang bersifat anticholesteremik, mencegah kelebihan kolesterol.

Anti Mencret
     Kulit dahan juwet yang mengandung tanin dan asam galat  yang astringen, juga bisa dimanfaatkan sebagai jamu pencegah  mencret, yang  disebabkan  oleh  masuk  angin.  Mencret  jenis  ini  tidak disebabkan  oleh  bakteri atau parasit lain,  tapi  hanya  karena
perbedaan  suhu,  gara-gara kebanyakan minum es,  misalnya.  Atau kebanyakan sate kambing.
     Kulit  dahan  satu  jari (lk 6 cm)  yang  sudah  dikeringkan (untuk mencegah pembusukan) direbus selama setengah jam dalam air mendidih satu gelas. Setelah ampasnya disaring, sarinya  diminum, lakukan tiga kali sehari selama 2-3 hari hingga angin yang  masuk itu hilang.

JAMU ANTIDIABETES
     Juwet lebih terkenal sebagai jamu antidiabetes daripada anti ngompol dan mencret. Diabetes atau kencing manis disebabkan  oleh kelebihan   kadar  glukosa  darah,  karena  tubuh   tidak   mampu menghasilkan  hormon  insulin yang cukup.  Insulin  ini  bertugas
mengubah  kelebihan gula dalam darah menjadi glikogen yang  dapat disimpan  dalam  hati.  Tugas  darah  yang  kelebihan  beban  ini terganggu.  Tugasnya ialah mengangkut oksigen baru dari  luar  ke bagian tubuh yang mebutuhkannya, dan mengeluarkan sisa metabolis-me  berupa karbondioksida. Badan terasa letih, tenaga kurang  dan kalau  luka  lama sekali sembuhnya. Keringat dan  kencing  berbau amis, karena kelebihan glukosa.
     Biji buah juwet mampu mampu menyembuhkan gejala "lama sekali sembuhnya luka" itu. Ini adalah berkat kerja glukosida Phytomelin‚ dalam  biji  juwet,  yang mampu  mengurangi  kerapuhan  pembuluh-pembuluh darah kapiler. Dengan mengkonsumsi
phytomelin‚ dari  biji juwet, kerapuhan itu dicegah, dan luka-luka yang ada dapat  cepat
sembuh.
     Kadar   glukosa   yang  tinggi  dalam   penderita   diabetes menyebabkan  kadar  kolesterol  yang masih  rendah  dalam  darah. Seolah-olah  darah  sudah kebanyakan  kolesterol,  padahal  belum banyak.  Akibatnya tugas darah terganggu,  sehingga  pembangkitan tenaga hasil oksidasi (pembakaran) zat makanan menjadi  energi, macet. Berkuranglah tenaga kita dan lekas letih.
     Membuat  jamu  kencing manis adalah : 7 biji  juwet  bawang (atau 15 biji juwet biasa) ditumbuk halus, lalu direbus  dalam  2 gelas  air. Air rebusan ini diminum sedikit-sedikit. Jumlah  yang ada harus dihabiskan sepanjang hari. Boleh diangsur dengan  minum 3  kali sehari. Mungkin diperlukan 2-3 hari pemberian  jamu  ini,
dan dihentikan kalau badan sudah segar.
     Dengan  jamu ini yang diredakan hanya gejala penyakit  saja, sedangkan kekurangan insulin tidak dipulihkannya. Maka  disamping jamu  juwet  ini, penderita harus mengurangi  makanan  berglukosa banyak, seperti gula, nasi dan makanan karbohidrat lainnya.
Sumber: Slamet  Soeseno,  "Juwet Mencegah Ngompol  dan  Kencing  Manis ," (Trububus 252, Nov. 1990), Yayasan sosial Tani  Membangun, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer Pekan Ini

Universitas Negeri Padang, Padang Ekspress

Loading...