Automatic translation of this blog page

Tuesday, January 3, 2012

AIR DALAM FUNGSI ESTETIKA ALAM


Essay, Oleh : Tarmizi, Bsc
 Esay Air by Tarmizi ini telah dipublikasikan di berbagai koran, majalah dan tabloid sejak 1990-2005

Alam dan Manusia
     Di pantai nan indah... ombak bergulung... 
memutih berkilauan berlari, berlomba,
 berkejaran ke pantai, menerpa, 
memecah, menghempas karang. 

Berdesir dan berirama, melagukan nyanyian yang punya beribu makna. 
Bocah-bocah yang merekah menjelang tua, 
pada bersorak bermandi ombak, 
dan berjemur bermandi cahaya mentari keemasan.

     Nun... di kejauhan pinggiran langit... 
biduk pincalang, lanacang kuning, bagan dan perahu nelayan, 
menantang keangkeran samudera untuk sesuap nasi bagi anak isteri. 
Di sisi lain... boat boat meluncur laju, menyibak air, 
menyeret mereka yang bermain ski, sambil bernyanyi riang.

     Di pantai ini, pepohohanan nyiur menjulang ke laut... 
entah mencoba menjenguk dalamnya samudera, 
dan melambai ditiup sang bayu memanggil nelayan 
balik ke tepi atau pelancong domestik dan mancanegara... 
yang pasti, mewarnai pinggiran pantai dengan kehijauannya,
 pelindung semak dan terna serta membentengi badai samudera.

     Danau nan indah diapit lingkungan bukit... 
yang kebiruan atau kecoklatan. 
Lembah yang dihiasi sungai meliuk berliku-liku, 
dan jeram-jeram yang memutih melompati tebing-tebing
 disertai dengan nyanyian desirannya yang kahas, mengasikkan.
     Mega yang berserakan berarak mengiringi Siraja klana, 
dan menyelimuti puncak gunung nan tinggi, 
yang ditutupi halimun menyembunyikan kejangkungannya. 

Di pegunungan yang tinggi, puncaknya gundul memutih,
 itulah salju abadi yang memvariasikan kebiruan dan kedigjayaannya.
     Dan dikedangkalan lautan, kita saksikan
 taman laut nan indah mempesona.

Keindahan beginipun dapat dipindahkan ke dalam aquarium, 
ntuk kejelian beribu mata pengunjung.
     Samudera raya tak bertepi...
 itulah yang ditemui seorang pelaut, kebesaranNYA yang menggiriskan... 
menjadikan diri tak berarti, menjadarkan insani 
dari kesombongan-kepongahan yang acap mencengkram diri.

     Di dalam merenungkan, menembusi segala hamparan kenyataan, beribu kali, 
kita akan menyebut air. Indah, mepesona, menggairahkan, mendamaikan segala perasaan,
dan membebaskan fikiran dari segala himpitan beban 
serta menyegarkan segala kelelahan yang mencekam jasmani dan rohani.

     Sang Pujangga akan membisikan 
dan menyanyikan bait syair bermakna dalam, 
tersembul dari jeritan sanubarinya. 
Dan Sang Pelukis...
 akan menyadap 
dan memindahkannya ke atas kanvas
 dengan comotan kuas serta paletnya. 

Dan Sang Musisi... 
mencoba mencipta imitasi dari bisikan dan irama, 
dengan nada-nada viol serta instrumen lainnya.
     Itulah kesemua fungsi estetika kisah alam 
yang dibangkitkan oleh wujudnya air di tengah-tengahnya. 

Dan... kesemuanya untuk kita insani, seperti dalam kalam ilahi,
 yang dapat menerima sentuhan melalui naluriah estetika yang dimiliki manusia.

Air sebagai Spektator
     Air... dialah spektator dari segala hakikat 
yang terhampar di hadapan kita.
Bacalah segala yang terhampar,
 renungkan segala yang tersembunyi,
di dalam segala kisah alam dunia semesta ini...

     Sekali lagi iqra'. Untuk terwujudnya apa yang dikatakan ada, 
hidup atau mati, kisah alam semesta 
dengan beribu zigma dan variasi. 
Air, dialah spektator bagi statika dinamika hingga buana 
punya beribu cerita, dari matinya (gersang, tandus) 
sampai kepada cerita hidupnya (subur dan kaya). 

Meskipun demikian, ini semua dikarenakan kondisi energi 
yang mempengaruhi untuk dapat bertindak sebagai spektator.
     Lihatlah... planit merkurius, panasnya beribu derajat Celsius, 
air tak dapat bersikap sebagai spektator,
 karena dia hanya punya suatu bentuk, yaitu uap. 

Lain lagi planit Yupiter, suhunya beratus derajad Celsius di bawah nol, 
air hanya punya satu wujud yaitu padat, 
yang tak memberikan kesempatan bagi bersikapnya air sebagai spektator. 
Tapi... dengan persesuaian temperatur bumi, untuk air sebagai spektator, 
maka kita jumpai, dan temui sebagai adanya ini. 

Sepanjang pengertian yang universal, maka hakikat dari alam semesta,
 baik yang kongkrit maupun yang abstrak, 
airlah sebagai spektator dalam mewujudkan distribusi 
dan interrelasi organisasi materi yang eksakt atau yang non eksakt.

Filosofi Air
     Air yang terus-menerus menerjang, menerpa bebatuan keras,
lambat laun bebatuan itu akan menganga, pecah, hancur berantakan.
Maka kegigihan, ketabahan, dan kesungguhan itu, 
lambat laun akan menghasilkan buah yang diharapkan.

     Suatu saat air kita butuhkan, 
saat lain kita buang dan hindarkan. 
air sangat bermanfaat bagi kehidupan namun... 
juga berlaku sebagai sumber malapetaka. 

Air sering sebagai keluhan... 
kekeringan, kekurangan air, basah, kehujanan, kebanjiran. 
Kita semua suka dan butuh air untuk hidup, dan...
 takut dan hindarkan supaya kita tetap hidup, bila kia tak rela tenggelam.

     Air bersifat netral...
 tidak memihak asam ataupun basa, tetapi...
 pada suatu kondisi 
air akan bersifat asam atau basa.

Air acapkali dan sering dipakai sebagai standar,
 pembanding, pengukur, penakar, penimbang dan sebagainya.
 Ini semua disebabkan sifat fisika
 dan kimianya yang memungkinkan.

     Air adalah pelarut yang universal, dapat melarutkan berbagai materi, 
dan mungkin pula dapat melarutkan perasaan dan imajinasi.
Anda butuh air, saya butuh air, 
kita semua butuh air untuk beribu hajat dan keperluan. 

Namun akhirnya... kita semua akan buang air.
     Air itu bersih, dapat membersihkan dan dapat pula dibersihkan. 
Adakalanya air itu kotor, dapat dikotori serta dapat mengotori.

     Air hujan turun dari langit ke bumi, 
dan air bumi pun dapat dinaikkan ke pencakar langit. 
Untuk menaikkan air diperlukan energi,
 maka manusia untuk naik perlu usaha. 

Semakin tinggi pangkat, cita-cita,
 penghasilan dan keimanan, 
semakin tinggi pula tantangan, 
kesukaran dan kendalanya.

     Air selalu mengalir ke tempat yang rendah, 
maka begitu juga ilmu yang hanya akan mengalir 
kepada insan yang rendah hati, 
yang tahu dengan kekurangannya. 

Air itu permukaan selalu datar, 
begitupun manusia di mata Sang Pencipta (kecuali imannya).
     Air yang turun memiliki tekanan
 menghasilkan energi, 
maka jika kita turunkan ilmu kepada sesama, 
kita akan terima hasilnya di dunia 
berupa kesenangan dan kebahagiaan, 
di akhirat kelak berupa amal jariah.

     Air... adakah ia dengan sendirinya ? 
Lalu siapa yang menciptakan? 
Sudahkah kita mensyukuri nikmat Sang Pencipta ini ?
Sadarlah hai insan, taatlah kepada Tuhan, ALLAH Yang Maha Rahman.
Diambil dari Buku "Air dan Kisah Alam Semesta" Karya Tarmizi, 1990. Diterbitkan terbatas.
Tarmizi, 20005

No comments:

Post a Comment

Tumbuhan Obat

Followers