Automatic translation of this blog page

Wednesday, March 2, 2011

Bengle sebagai Penenang

Oleh Tarmizi, B.Sc., S.Pd


 
Ternyata, bengle hanya dikenal di kalangan peracik jamu sajian. Berikut ini kami ceritakan bagaimana sosok tanamannya serta khasiatnya sebagai obat.

Bangle

(Zingiber purpureum Roxb.)
Sinonim :
Zingiber cassumunar, Roxb.
Familia :
Zingiberaceae
     Bengle (Zingiber cassummunar Roxb) yang ditanam di Jawa Tengah, sebenarnya sudah sejak dulu diperdagangkan sebagai bangle di Jakarta. Dan sebagai banglai dari Sumatera Selatan, umbinya diracik juga di Bali sebagai banggele. Orang Tidore meraciknya sebagai bongie. Melihat namanya yang beraneka ragam, tapi kurang lebih berbunyi bengle itu, diduga tanaman ini tersebar luas dan sudah merakyat dipakai di mana-mana.
     Bangle (Zingiber purpuremn Rox b.) dikenal dengan banyak nama  daerah. Di Sumatera: Mugle, bengle, bungle, baglai, banlai, banglai, kunit bolai, kunyit bolai. Di Jawa: Panglai, bengle, pandhiyang, banggele. Orang Kalimantan menyebutnya: Bangalai.
Di Nusatenggara sebagai : Banggulai. Di Sulawesi: Manglai, mangulai, bangerei, wangelei, bale, kekuniran. Di Maluku : Banggale, unin makei, bangle, bongle.
Familia Zingiberaccae. Rimpang Bangle ini dikenal peracik jamu dengan nama simlisia Zingiberis purpurci Rhizoma.
Kandun,gan kimia Rimpang :Minyak atsiri, damar, pati, tannin. Kegunaan Rimpang bengle sebagai peluruh kentut, pembersih darah,  pencahar,  pengobatan pasca persalinan, dan  penurun panas.
Sosoknya seperti jahe
   Tanamannya berupa terna tegak yang seluruh bagiannya tetap lunak,  sam'pai akhir hayatnya. Tubuhnya memang tidak mengandung  kayu. la membentuk rumpun yang lumayan rimbunnya. Tanaman induk dan anakan tumbuh sebagai satu kesatuan rumpun yang harmonis.
     Seperti kerabatnya, si jahe Zingiber qfficinale, bengle Zingiber cassumunar alias Zingiber purpureum ini juga berbatang semu. Apa yang tampak seperti batang itu ialah pelepah‑pelepah daun yang tersusun susul‑menyusul, membentuk rangkaian panjang. Tingginya. bisa sampai 1,5 m kalau dibiarkan tumbuh liar. Tapi bila ditanam di pekarangan, biasanya hanya sampai 1 meteran. Batang semu itu hanya sekecil 15 cm. Walaupun demildan, batang itu lebih gagah tampaknya daripada jahe.
     Pada musim kemarau, kalau ikhm dan tanahnya mulai kering, tanamannya membentuk tandan bunga di ujung tangkai yang lebih pendek dari~ada tangkai daun. Tandan bunga ini berbentuk seperti gelendong (kayu untuk menggulung benang). Daun pelindung bunga ini kaku dan dari jauh kehhatan seperti sis;k‑sisik tebal. Mula‑mula berwarna hijau, tapi kemudian berubah merah atau merah cokelat. Bunganya sendiri, yang dilindunginya, putih mulus. Karena keindahan warna‑warni bunganya inilah, bengle sering ditanam. di pekarangan rumah sebagai tanaman hias.
     Diduga bahwa jenis ini berasal dari India. Oleh para pedagang zaman dulu dibawa ke pulau Jawa, lalu dari Jawa disebar ke seluruh Nusantara, sampaisampai di Polau Rote pun orang mengenalnya sebagai banggale.

Apanya yang berkhasiat?
     Seperti jahe, bengle membentuk umbi di bawah permukaan tanah. Warnanya kuning kehijau‑hijauan dan rasanya pahit pedas, dengan. bau tidak enak yang menvengat.
Baik daun maupun umbi yang tidak enak ini mengandung minyak asiri yang menghangatkan. Minyak bengle lalu di~nanfaatkan sebagai jamu karminatif (penghalau angin dari badan, termasuk gas-gas yang terbentuk dalam saluran pencernaan). Jenis asiri yang sudah diketahui ialah sineol (sejenis terpena) yang agak pedas seperti yang ditemukan dalam, umbi jahe dan kunyit. Zat inilah yang berperan menghangatkan tubuh.
     Selain sineol bengle mengandung pinen (sejenis alkena) seperti yang terkandung dalam minyak terpentin. Ini bersifat merangsang selaput lendir, misaInya selaput lendir yang melindungi dinding usus bagian dalam. Tapi sesudah merangsang, pinen ini kemudian menenangkan, kalau pemakaiannya hanya sedikit. Kalau pekat, pinen ju~stru be&haya dan menimbulkan pusing kepala. KaIau diabaikan terus, dapar membuat orang pusing itu jadi pingsan.
     Oleh karena itu, nenek moyang kita tidak pernah memakai bengle sendirian. Umbinya selalu diramu dengan umbi tanaman obat lain, untuk mencegah Jangan sampai terlalu pekat, kebanyakan pinen, Biasanya dicampur dengan umbi jahe dan kencur (untuk memperpanjang masa penghangatan) serta lempuyang wangi Zingiber aromaticum, atau lempuyang emprit Zingiber amaricans (untuk memberi bau wangi enak atau sedap nyaman). Masing‑masing umbi pembantu ini kemudian juga berperan sebagai pengencer kepekatan bengle‑Sosok tanaman jahe dan kencur sudah dicen‑itakan dalam Trubus bulan Juni 1989, sedang lempuyang wangi dalam Trubus Februari 1990. Tinagal lempuyang emprit yang belum.
la aisebut emprit, karena umbinya kecil‑kecil, sehingga dibanding deng~n umbi lempuyang lain yang besarnya ibarat kerbau, ia ibarat burung emprit. Umbi kecil ini juga karminatif. Tanamannya juga berupa tema tegak yang sosoknya mm'*p bengle, tapi lebih mini.
Bagaimana memakainya
     Ramuan umbi bengle, jahe, kencur dan lempuyang wangi itu biasanya dijadikan jamu minuman para ibu Jawa untuk mengobati bermacam‑macam penyakit akibat masuk angin, seperti perut mulas, murus atau sebaliknya sulit buang air besar.
Untuk ini, sepotong umbi bengle setengah buku jari tangan, jahe setengah buku jari tangan, kencur setengah buku, dan lempuyang wangi setengah buku, direbus dalam panci kecil dengan satu gelas air sampai semuanya tinggal separonya. Inilah yang diminum sesudah disaring dan dibiarkan dingin kembali.
     Kalau kebetulan sedang tidak ada umbi, daun bengie juga dapat dipakai. Dua helai d iun bengle dan dua butir merica. direbu,~ daiam air yang sudah mendidih,selame.1 4 jam. Sesudah agak dingin. air saringannya diminum, untuk mengobati sakit perut mulas. (Tarmizi, 2004)





Uraian :
Bangle tumbuh di daerah Asia tropika, dari India sampai Indonesia. Di Jawa dibudidayakan atau di tanam di pekarangan pada tempat-tempat yang cukup mendapat sinar matahari, mulai dari dataran rendah sampai 1.300 m dpi. Pada tanah yang tergenang atau becek, pertumbuhannya akan terganggu dan rimpang cepat membusuk. Herba semusim, tumbuh tegak, tinggi 1-1,5 m, membentuk rumpun yang agak padat, berbatang semu, terdiri dari pelepah daun yang dipinggir ujungnya berambut sikat. Daun tunggal, letak berseling. Helaian daun lonjong, tipis, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi rata, berambut halus, jarang, pertulangan menyirip, panjang 23-35 cm, lebar 20-40 mm, warnanya hijau. Bunganya bunga majemuk, bentuk tandan, keluar di ujung batang, panjang gagang sampai 20 cm. Bagian yang mengandung bunga bentuknya bulat telur atau seperti gelendong, panjangnya 6-10 cm, lebar 4-5 cm. Daun kelopak tersusun seperti sisik tebal, kelopak bentuk tabung, ujung bergerigi tiga, warna merah menyala. Bibir bunga bentuknya bundar memanjang, warnanya putih atau pucat. Bangle mempunyai rimpang yang menjalar dan berdaging, bentuknya hampir bundar sampai jorong atau tidak beraturan, tebal 2-5 mm. Permukaan luar tidak rata, berkerut, kadang-kadang dengan parut daun, warnanya coklat muda kekuningan, bila dibelah berwarna kuning muda sampai kuning kecoklatan. Rasanya tidak enak, pedas dan pahit. Bangle digolongkan sebagai rempah-rempah yang memiliki khasiat obat. Panenan dilakukan setelah tanaman berumur satu tahun. Perbanyakan dengan stek rimpang.

Nama Lokal :
Panglai (Sunda), bengle (Jawa), pandhiyang (Madura).; mugle, bengle, bungle, baglai, baniai, banglai, bunglai,; Bangle, kunit bolai, kunyit bolai (Sumatera), banggele (Bali),; Bale, panini, manglai, manguiai, bangerei, wangelei, walegai,; kukuniran, kukundiren, unin makei, unin pakei, bangle, bongle;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Demam, Sakit kepala, Batuk, Perut nyeri, masuk angin, sembelit; Sakit kuning, Cacingan, Reumatik, Ramuan jamu, kegemukan; Mengecilkan perut setelah melahirkan;

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI: Rimpang, daun.

KEGUNAAN:
Rimpang:
- Demam, sakit kepala.
- Batuk berdahak.
- Perut nyeri, masuk angin.
- Sembelit.
- Sakit kuning.
- Cacingan.
- Rheumatism.
- Ramuan jamu pada wanita setelah melahirkan.
- Mengecilkan perut setelah melahirkan.
- Kegemukan.

Daun:
· Tidak napsu makan.
· Perut terasa penuh.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 1/2-3.jari rimpang, direbus.
Pemakaian luar. Rimpang secukupnya dicuci bersih Ialu diparuti dipakai sebagai tapal atau boreh pada sakit kepala, pegal linu, mengecilkan perut sehabis melahirkan, dan sebagainya.
CARA PEMAKAIAN:
1. Demam, masuk angin.
    15 g rimpang bangle yang segar dicuci lalu diparut. Tambahkan 1/2
    cangkir air panas dan 2 sendok makan madu.  Diaduk merata lalu
    diperas dan disaring, minum. Lakukan 2 kali sehari.

2. Perut mules:
    Rimpang bangle, rimpang jahe, kencur dan  lempuyang wangi,
    masing-masing 1/2 jari tangan dicuci lalu diiris tipis-tipis.  Rebus
    dengan 1 gelas air bersih sampai tersisa 1/2 gelas.  Setelah dingin
    disaring, lalu diminum.

3. Sakit kepala karena demam:
    Rimpang segar secukupnya dicuci bersih lalu diparut.  Tambahkan
    sedikit air sampai menjadi adonan seperti bubur.  Dipakai sebagai
    pilis pada dahi.
4. Sakit kuning:
    1/2 jari rimpang bangle dicuci bersih lalu diparut. Tambahkan air
    masak dan madu masing-masing 1 sendok makan. Peras dan saring,
    minum.  Lakukan 2 kali sehari.
5. Nyeri sendi (rheumatism):
    Rimpang segar secukupnya dicuci Ialu diparut, tambahkan arak
    sampai menjadi adonan seperti bubur encer.  Borehkan kebagian
    sendi yang sakit.

6. Mengecilkan perut setelah melahirkan:
    Rimpang bangle secukupnya dicuci lalu diparut, borehkan pada
    perut.

7. Cacingan:
    3 jari rimpang bangle, 2 jari temu hitam, 5 biji ketumbar dan 5 lembar
    tangkai daun sirih dicuci lalu diiris tipis-tipis, kemudian ditumbuk
    halus.  Tambahkan 1/ 2 cangkir air masak, diaduk merata lalu
    diperas dan disaring.  Minum.

8. Radang seiaput lendir mata:
    Rimpang bangle dan kunyit sebesar 1 buku jari tangan dan 13 butir
    jinten hitam dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya.  Rebus
    dengan 1 gelas air bersih sampai tersisa setengahnya. Setelah
    dingin disaring, minum.

9. Kegemukan / mengurangi lemak tubuh:
    a. Sepotong rimpang bangle dan 7 lembar daun jati belanda dicuci
       lalu direbus dengan 1,5 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. 
       Setelah dingin disaring, dibagi untuk 2 kali minum.  Pagi dan
       sore hari.
    b. 1/2 jari rimpang bangle, 1/2 jari rimpang temu giring, 3/4 jari
       rimpang lempuyang wangi, 1/4  genggam daun kemuning, 1/4
       genggam daun jati belanda, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-
       potong seperlunya. Rebus dengan 4 1/2 gelas air bersih sampai
       tersisa 1/2-nya. Setelah dingin disaring, minum. Sehari 3 x 3/4
       gelas.

    c. Rimpang bangle dan rimpang temu hitam, masing-masing 1/2 jari
       tangan, dicuci lalu diparut. Tambahkan 1 sendok makan air jeruk
       nipis dan 2 sendok makan madu, aduk merata sambil diremas-
       remas.  Peras dan saring, minum. Lakukan 2-3 kali sehari.
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Rimpang berbau khas aromatik, rasanya agak pahit dan agak pedas. Penurun panas (anti piretik), peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak (expectorant), pembersih darah, pencahar (laksan), obat cacing (vermifuge). KANDUNGAN KIMIA: Rimpang: minyak atsiri (sineol, pinen), damar, pati, tanin.

Tumbuhan Obat

Followers