Automatic translation of this blog page

Selasa, 15 Maret 2011

IDENTIFIKASI SENYAWA ORGANIK BAHAN ALAM “DAUN KAYU MANIS (Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI)”


OLEH: Whyndie Permata Sari 66988  JURUSAN KIMIA Pendidikan Kimia
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2007
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan paper yang berjudul  “IDENTIFIKASI SENYAWA BAHAN ALAM”.
Tujuan penulisan ini adalah untuk melengkapi tugas mata kuliah Praktikum Kimia Organik II, selain itu juga untuk melatih penulis dalam menyusun suatu paper.
Penyelesaian paper ini tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Orang tua penulis yang selalu memberi motivasi untuk penulis
2.      Ibuk Dra. Hj. Nurhasnah Aliunir, M.Si, Ibuk Dra. Yustini Ma’aruf, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan-arahan kepada penulis sehingga paper ini dapat tersusun dengan baik.
3.      Kak Tika Adelina dan kak Rahmi Desrita selaku asisten yang telah banyak membantu penulis dalam pembuatan paper ini.
4.      Teman-teman seangkatan yang telah membantu penulis dalam penulisan paper ini.
Penulisan menyadari bahwa paper ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca dan penulis berharap semoga paper ini bermanfaat bagi pembaca.
Padang, Desember 2007

PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang.
Senyawa organik bahan alam adalah senyawa organik yang merupakan hasil metabolisme dalam organisme hidup. Senyawa dari jenis ini disebut juga metabolit. Secara sistematik, penyelidikan dalam bidang ini sudah dimulai sejak 200 tahun yang lalu. Pada akhir abad ke-18 Scheele misalnya telah mengekstraksi beberapa senyawa organic sederhana dari sumbernya, baik dari tumbuh-tumbuhan maupun dari hewan. Antara lain gliserol, asam oksalat, asam laktat dan asam sitrat. Pada tahun 1806, Sertuner memperoleh morfin dari opium. Dan 15 tahun kemudian, Pelletier dan Caventou telah dapat mangisolasi striknin, brusin, kuinin, sinkonin, dan kafein. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan alam yang dapat diisolasi untuk pertama sekali dalam keadaan murni. Selain itu, isolasi bahan alam berkembang makin lama makin pesat, terutama  setelah penemuaan obat teknik dan instrument yang makin mutakhir ( Rangke, 1989 : 1).
Indonesia dengan hamparan tanahnya yang memiliki potensi tinggi dalam menyediakan nutrisi bagi tumbuhan, telah memberikan berbagai keuntungan bagi manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Keberadaan tumbuh-tumbuhan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya sebagai obat. Saat ini masih banyak tanaman obat berkhasiat yang tumbuh liar dan belum terolah. Populasinya tersebar diberbagai tempat, mulai dari tegalan, persawahan, kebun, hutan, pekarangan, hingga taman kota. Menurut catatan balai Penelitian tanaman rempah dan obat yang berpusat di Bogor dilaporkan terdapat 1000  jenis tanaman obat yang tunbuh di Indonesia. Namun yang dimanfaatkan baru sekitar 50 jenis, itu pun karena digunakan oleh industri jamu, sedangkan sisanya dikenal sebagai tumbuhan liar.
Sumatra Barat adalah Provinsi yang kaya akan berbagai jenis tanaman obat, salah satunya adalah Kayu Manis (Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI). Penggunaan tanaman kayu manis sebagai obat, berkaitan dengan kandungan kimia yang terdapat di dalamnya terutama zat bioaktif. Tanpa adanya suatu senyawa bioaktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan itu tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan biasanya merupakan senyawa metabolisme sekunder seperti Alkaloid, Flavonoid, Steroid, Terpenoid, Saponin dan lain-lain.
B.     Tujuan Penulisan.
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui bahwa tanaman kayu manis mengandung senyawa metabolit sekunder sehingga dapat digunakan sebagai tanaman obat. Selain itu, punulisan paper ini juga bertujuan untuk  memenuhi tugas mata kuliah Praktikun Kimia Organik II.
C.     Pembatasan Masalah.
Dalam penulisan peper ini, penulis mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman kayu manis. Pengidentifikasian ini difokuskan pada daun tanaman kayu manis.
D.    Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam Penelitian ini adalah :
1.      Apakah jenis senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam daun tumbuhan kayu manis(Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI)?
2.      Apasaja khasiat dan manfaat daun kayu manis bagi kehidupan manusia?
E.     Manfaat Penulisan.
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1.      Mengetahui jenis metabolit sekunder yang terkandung dalam daun kayu manis.
2.      Menberikan informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada tumbuhan kulit manis.
3.      Menberikan informasi tentang khasiat dan manfaat daun kayu manis.
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Botani Tumbuhan.
Kayu manis (Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI) adalah termasuk rempah – rempah yang sudah ada sejak zaman purbakala. Pohon kayu manis ini tunbuh setengah liar dan dibudidayakan di Tiongkok Selatan yaitu di propinsi Kwansi, Kwantung dan di Vietnam. Kayu manis ini memiliki pohon yang sangat tinggi dengan umur bisa mencapai sepuluh hingga tiga puluh tahun.
1.      Gambar kayu manis (Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI).

Yah, pada akhirnya saya simpan dalam-dalam informasi dari Bapak

Gambar 1. Foto Kayu Manis

2.      Klasifikasi kayu manis (Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI).
Kingdom                : Plantae
Subkingdom           : Tracheobionta
Superdivisio            : Spermatophyta
Divisio                    : Magnoliophyta
Kelas                     : Magnoliopsida
Sub-kelas               : Magnolidae
Ordo                      : Laurales
Familia                   : Lauraceae
Genus                     : Cinnamomum
Spesies                   : Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI
Nama lokal : Cinnamomi cortex, Cassia vera, Kayu manis (Padang)

3.      Ciri Fisik kayu manis.
Sosok              : Memiliki pohon yang sedang besarnya, sangat tinggi yaitu dapat mencapai tinggi 30 - 60 kaki.      
Batang              : Berkayu dan bercabang-cabang.
Kulit pohon      : Berwarna pucat Dan halus Dan mengandung gabus, pada pohon tua kulit tersebut semakin tebal.
Daun                : Memanjang-bangun lanset dengan 3 tulang yang melengkung. Warna daun muda merah pucat, setelah tua berwarna hijau.
Bunga               : Kecil, berwarna kuning, tersusun sebagai malai dan tumbuh di ketiak daun.
Buah                : Saat muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam.
Akar                : Tunggang.
4.      Tempat Tumbuh.
Pohon kayu manis ini tumbuh paling banyak di lereng – lereng bukit dan baik di daerah lembab dengan hujan yang mereta sepanjang tahun, dengan curah hujan antara 2000-2500 mm / tahun. Dan dapat tumbuh di daerah 500-2000 m di atas permukaan laut.

5.      Bagian Tanaman yang Digunakan.
Untuk tujuan pengobatan tradisional, terdapat tiga bagian utama yang dimanfaatkan yakni: akar, kulit dan daun.
6.      Komposisi kayu manis.
Kulit kayu terdiri atas:
Ø      Minyak Atsiri yang sebagian besar (75-90 %) terdiri atas Sinonamin aldihid.
Ø      Selanjutnya ada juga: lendir, lesin, tannin, CaC2H4, dan lain-lain.
7.      Kandungan kimia kayu manis.
Kayu manis terdiri atas zat kimia  sebagai berikut:
ü      Sinamat aldehid
ü      Sinamil asetat
ü      Fenil propil asetat
ü      Konstituen dalam jumlah yang sangat kecil
ü      Silisilaldehid
ü      Asam sinamat
ü      Asam silisilat dan asam benzoate
ü      Asam lemak
ü      Koumarin
ü      Benzaldehid
ü      O-metoksi benzaldehid (metil salisilaldehid)
ü      Metal-O-koumaraldihid (O-metoksi sinamal dehid)
8.      khasiat kayu manis untuk obat.
Analgesik, Stomatik dan Aromatik.
9.      Kegunaan kayu manis.
a.       Dalam obat tradisional, digunakan untuk:
*      Mengatasi infeksi kandung kemih
*      Mengobati sakit gigi
*      Menurunkan kolesterol
*      Menyembuhkan filek
*      Mengobati kemandulan
*      Mengurangi kembung
*      Menyembuhkan sakit kepala karena sinus
*      Manyembuhkan kanker perut
*      Membunuh kuman influenza
*      Menyembuhkan infeksi kulit
*      Mengobati sakit perut
*      Mengobati radang sendi
*      Mengurangi resiko sakit jantung
*      Menghilangkan rasa mual dan loya terutama pada wanita hamil
*      Mengobati mencret
*      Mengobati rematik
*      Mengobati darah tinggi
b.      Dalam bidang makanan dan minuman dimanfaatkan sebagai:
Ø      Pewangi atau peningkat cita rasa, seperti pada:
·        Daging
·        Saus meja
·        Kue
·        Produk-produk panggangan
·        Kembang gula
·        Dessert
·        Minuman (soft drink)
·        Acar
·        Permen karet
c.       Dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk:
v     Mengatasi kerontokan rambut
v     Mambangkitkan vitalitas tubuh yang menurun
v     Menghilangkan bau nafas / obat kumur
v     Mengurangi kelebihan berat badan
v     Menyembuhkan jerawat
v     Membangkitkan nafsu makan
v     Penyegar bau sabun, detergen, lotion, parfum dan cream.


B.     Metabolit Sekunder.
1.      Alkaloid.
Alkaloid adalah bentuk senyawa yang mengandung nitrogen (biasanya dalam bentuk siklik) dan bersifat basis. Senyawa ini tersebar luas dalam dunia tumbuh-tumbuhan dan banyak diantaranya yang mempunyai efek fisiologi yang kuat. Beberapa efek tersebut telah dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia primitife jauh sebelum ilmu organik berkembang. (Rangke 1989:131).
Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen berasal dari tumbuhan dan hewan. Harbone dan Tuter(1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkaloid yang memuaskan, tetapi umumnya alkaloid dalah senyawa metabolit skunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen biasanya dalam cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol.
Beberapa contoh Alkaloid dan strukturnya:
                  Piridin     Piperidin           Indol                   Isokuinolin
              
Gambar 2. Struktur Alkaloid
Secara umum, golongan senyawa alkaloid mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Biasanya merupakan kristal tak berwarna, tidak mudah menguap, tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organic seperti etanol, eter Dan kloroform. Beberpa alkaloid (seperti konini dan nikotin) berwujud cair dan larut dalam air. Ada juga alkaloid yang berwarna, misalnya berberin (kuning).
  2. Bersifat basa; pada umumnya beberapa pahit, bersifat racun, mempunyai efek fisiologis serta optis aktif.
  3. Dapat membentuk endapan dengandengan larutan asam fosfowolframat, asam fosfomolidrat, asam pikrat, kalium merkuri iodida dan lain sebagainya. Dari endapan-endapan ini, banyak juga yang memiliki bentuk kristal yang khusus sehingga dapat bermanfaat dalam identifikasinya.
Senyawa alkaloid dapat diklasifikasikan dari segio gugus fungsi yang dikandungnya. Klasifikasi berdasarkan gugus fungsi adalah lebih umum yakni:
a.       Alkaloid feniletamin misalnya efedrin.
b.      Alkaloid pirolidin, misalnya higrin dari koka.
c.       Alkaloid piridin, misalnya asam nikotinat.
d.      Alkaloid kuinolin, misalnya asam kuinin.
e.       Alkaloid perpadun pirolidin Dan piridin, misalnya nikotin.
f.        Alkaloid isokuinolin, misalnya papaverin.
g.       Alkaloid fenantren, misalnya emetin.
h.       Alkaloid indole yang masih dapat digolongkan menjadi:
-         Alkaloid sederhana, misalnya triptamin.
-         Alkaloid ergot, misalnya serotonin.
-         Alkaloid harmala, misalnya β-karbolin.
-         Alkaloid Yohimbe, misalnya reserpin.
-         Alkaloid strychnos, misalnya brusin Dan strinkin.
Alkaloid mempunyai peran sebagai berikut:
o       Bertindak sebagai tendon.
o       Dapat melindungi tumbuhan dari serangan parasit atau pemangsa
                        tumbuhan.
o       Berlaku sebagai pengatur tumbuh, misalnya merangsang percabangan.
o       Dapat mengganti basa mineral dalam mempertahankan kesetimbangan ion dalam tumbuhan.
2.      Flavonoid.
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa-senywa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Gambar aromatic flavonoid dan flavon:
         
                   Flavon                                            Kerangka flavonoid
Gambar 3. Struktur Flavon dan flavonoid
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, yarang sekali ditemukan berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosionin dalam mahkota bunga berwarna merah, hamper selalu disertai oleh flavon dan flavonol yang tak berwarna. Dewasa ini, diperkirakan telah berhasil diisolasi  sekitar 3.000 senyawa flavonoid.
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi yaitu:
a)      Sebagai pigmen warna.
b)      Fungsi fisiologi dan patologi.
c)      Aktivitas farmakologi.
d)      Flavonoid dalam makanan.
Aktivitas farmakologi dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah, dll. Gabor et al menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam-macam bioaktivitas seperti antiinflamasi, anti kanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepressant, diuretic, dll.
3.      Terpenoid.
Banyak tumbuhan (bunga, daun, buah, kulit Dan akar ) yang berbau harum. Bau harun itu berasal dari senyawa yang terdiri dari 10-15 karbon yang disebut terpen. Golongan-golongan senyawa ini dapat dipisahkan dari tumbuhan sumbernyamelalui destilasi uap dan secara ekstraksi dan dikenal dengan nama minyak atsiri. Beberapa contoh minyak atsiri, misalnya minyak yang diperoleh dari cengkeh, bunga mawar serai (sitronela), eukaliptus, pepermin, kamfer, sedar (tumbuhan cedrus) dan terpentin. Senyawa organik bahan alam golongan minyak atsiri sangat banyak digunakan dalam industri wangi-wangian, makanan dan obat-obatan.
Senyawa terpen pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang terdiri dari atomn C dan H, dengan perbandingan 5 : 8  dengan rumus empiris C5H8(unit romatic) yang bergabung secara head to tail (lapala-ekor). Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tetapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan keton. Dewasa ini, terpen maupun terpenoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid (Aromatic).
Gambar struktur isoprena
Satuan Iso-Pentana
Gambar 4. Struktur Isoprena

Berdasarkan jumlah unit isoprene yang dikandungnya, senyawa terpenoid dibagi atas:
a)      Monoterpen (dua unit aromatic).
Monoterpen merupakan komponen utama banyak minyak atsiri dan mempunyai makna ekonomi yang besar sebagai bau-rasa, wewangian, dan pelarut. Monoterpenoid khas berupa cairan berwarna, tidak larut dalam air, dapat disuling uap dan berbau harum.
Contoh monoterpen :
Mentol (Mentha Piperita)
Gambar 5. Struktur Monoterpen
b)      Seskuiterpen (tiga unit aromatic).
Seskuiterpen adalah senyawa C15, biasanya dianggap berasal dari tiga satuan isoprene. Anggota seskuiterpen asiklik terpenting adalah farnesol, alkohol yang tersebar luas.
Contoh strukturnya yakni:
Farmesol
Gambar 6. Struktur Seskuiterpen
Dari segi fisiologi. Salah satu seskuiterpen monosiklik terpenting ialah asam absisat, hormon yang melawan efek giberelin dan menghambat pertumbuhan kuncup.
Struktur dari asam absisat:
Gambar 7. Struktur Asam Absisat
c)      Diterpen (empat unit aromatic)
Diterpen merupakan senyawa C20. senyawa ini ditemukan dalam damar, eksudat berupa gom, dan dalam fraksi bertitik didih tinggi bakdamar yang tersisa setelah penyulingan minyak atsiri.
Contoh struktur diterpen  siklik:
α-Kamforena (Cinnamomum Camphora)
Gambar 8. Struktur Diterpen
d)      Triterpen (enam unit aromatic).
Triterpen merupakan senyawa C30. senyawa ini tersebar luas dalam dammar, gabus, dan kutin tumbuhan. Triterpen asiklik yang penting hanya hidrokarbon skualena, yang diisolasi untuk pertama kali dari minyak hati ikan hiu tetapi ditemukan juga beberapa malam epikutikula dan minyak nabati (misalnya minyak zaitun)
Contoh struktur :
                        Gosipol                                                 Skualena
Gambar 9. Struktur Triterpen
e)      Tetraterpen (delapan unit aromatic).
Yang tergolong kedalam tetraterpen ini adalah karotin-karotin pigmen merah.
f)        Politerpen (banyak unit aromatic).
 Yang tergolong dalam politerpen ini adalah lateks (karet alam).
4.      Steroid.
Secara sederhana steroid dapat diartikan sebagai kelas senyawa organik bahan alam yang kerangka strukturnya terdiri dari androstan (siklopentanofenanten), mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu.
Sebagian besar steroid mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
§         Mengandung gugus fungsi oksigen (sebagai = O atau –OH) pada C3
§         Mengandung gugus samping pada C17
§         Banyak yang mengandung ikatan rangkap di antara C4-C5 atau C5-C6.
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih Dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon-hormon seks yang dihasilkan terutama dalam testes Dan indung telur adlah steroid. Hormon jantan disebut androgen Dan hormon betina adalah astrogen, Dan hormone kehamilan adalah progestin.
Gambar 10. Struktur Steroid
5.      Saponin.
Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun(bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dengan air Dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, Dan tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun.
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organic yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon).
Saponin ini terdiri dari dua kelompok yaitu:
Ø      Saponin triterpenoid.
Saponin ini dapat mempunyai asam oleanolat sebagai aglikonnya, Dan asam ini ditemukan juga bebas.
Ø      Saponin steroid.
Saponin ini paling umum ditemukan dalam keluarga Liliaceae, Amarilidaceae, dan Dioscoreaceae.
Saponin banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah satunya terdapat pada lerak yang dapat digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) Dan sebagai sampo. Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metode ekstraksi.
    
METODOLOGI PENELITIAN
A.     Waktu Penelitian.
Penelitian ini di laksanakan di laboratorium kimia organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNP pada :
Hari                  : Jum’at
Tanggal            : 23 November 2007.

B.     Sampel Penelitian.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kayu manis ( Cinnamomum cassia (Nees) Nees ex BI).

C.     Alat dan Bahan.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
Ø      Lumpang
Ø      Pisau / gunting
Ø      Plat tetes
Ø      Tabung reaksi
Ø      Pipet tetes
Ø      Corong
Ø      Pemanas
Ø      Pasir halus bersih
Ø      Kapas
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Ø      Daun kayu manis
Ø      Amoniak-kloroform 0,05 N (1 ml amoniak dalam 250 ml kloroform)
Ø      H2SO4 2N
Ø      Pereaksi Mayer
Ø      Pereaksi Wagner
Ø      Pereaksi Dragendorf
Ø      Methanol
Ø      Asam sulfat pekat
Ø      Anhidrida asetat
Ø      Asam klorida pekat
Ø      Serbuk magnesium

D. Prosedur Kerja.
1.      Identifikasi Alkaloid : Metode Culvenor-Fitzgerald.
4 gram sampel



                    Dirajang halus
                    Digerus dalam lumping dengan bantuan pasir halus
                    + kloroform sedikit
                    Digerus lagi sampai membentuk pasta
                    + 10 ml larutan amoniak-kloroform 0,05N, digerus lagi
            Campuran
                
                    Disaring ketabung reaksi kering
                    + 5ml H2SO4 2N
                    Kocok kuat
                    Didiamkan sampai terbentuk 2 lapiasan
                    Dengan pipet diambil lapisan Asam Sulfat

            Lapisan Asam Sulfat
                    (Fitrat)
                                Dimasukkan kedalam tabung reaksi kecil
                    Diuji dengan pereaksi Mayer. Wagner, Dragandorf
                         Hasil
§         Terdapat endapan putih dengan pereaksi Mayer
§         Terdapat endapan coklat dengan pereaksi Wagner
§         Terdapat endapan Orange dengan pereaksi Dragendorf.
2.      Identifikasi Flavonoid : Shinoda test / sianidin test.
0,5 gram sampel



                          Diekstrak dengan 5 ml methanol
                          Dipanaskan 5 menit dalam tabung reaksi

                  Ekstrak



                     + beberapa tetes asam klorida pekat
         + sedikit serbuk magnesium

Hasil
·        Ada flavonoid bila terjadi perubahan warna menjadi merah / pink atau kuning

3.      Identifikasi Steroid / Terpenoid : Metode Lieberman Burchard.
Lapisan romatic pada uji alkaloid



        Ditempatkan pada plat tetes
        + 5 tetes anhidrida asetat dibiarkan mongering
        + 3 tetes H2SO4 pekat


Hasil
§         Uji pesitif terpenoid timbul warna merah jingga atau ungu.
§         Uji pesitif steroid timbul warna biru

4.      Identifikasi Saponin : Uji busa.
Sampel kering
 
        Dirajang halus Dan dimasukkan ketabung reaksi
        + air suling
        Didihkan selama 2-3 menit
        Dinginkan, dikocok kuat-kuat

Hasil
§         Busa yang stabil selama 5 menit sampel mengandung saponin.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.     Hasil.
No
Senyawa yang
diidentefekasi
Metoda
Hasil
1
Alkaloid
Metode Culvenor-Fitzgerald
  • Pereaksi Mayer
  • Pereaksi Wagner
  • Pereaksi Dragendorf



Test ( - ) karena tidak ada endapan putih
Test ( - ) karena tidak ada endapan coklat
Test ( - ) karena tedak ada endapan orange
2
Flavonoid
Shinoda test / sianidin test
Test tidak dilakukan karena keterbatasan bahan
3
Steroid / Terpenoid
Metode Lieberman-Buchard
  • Pada Steroid

  • Pada Terpenoid


Test ( + ) dengan terbentuknya warna biru
Test ( - ) tidak terbentuk warna ungu
4
Saponin
Uji busa
Test ( + ) adanya busa yang stabil selama 5 menit.
B. Pembahasan.
1.      Identifikasi Alkaloid.
Dalam identifikasi alkaloid dengan menggunakan metoda Culvernor-Fitzgerald Filtrat yang diperoleh dengan cara merajang halus Dan menggerus sampel dalam romati Dan ditambah dengan amoniak – kloroform 0,05N, larutan H2SO4 2N, di uji dengan beberapa pereaksi ternyata kayu manis tidak mengandung alkaloid. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya endapan yang dihasilkan dengan penambahan masing – masing reaksi.
2.      Identifikasi Flavonoid.
Pada identifikasi flavonoid, sampel juga dirajang halus kemudian di ekstrak dengan methanol dan dipanaskan selama 5 menit. Akan tetapi identifikasi flavonoid ini tidak dilakukan karena keterbatasan bahan yaitu tidak tersedianya methanol.
3.      Identifikasi Steroid / Terpenoid.
Pada identifikasi steroid ini, lapisan kloroform yang diperoleh pad uji alkaloid di tempatkan pada plat tetes dan dikeringkan. Kemudian ditambah 3 tetes H2SO4 pekat. Setelah penambahan, ternyata diperoleh warna biru dari larutan yang ada pada plat tetes. Hal ini menunjukkan bahwa kayu manis hanya mengandung steroid dan tidak mengandung terpenoid.
4.      Identifikasi Saponin.
Pada identifikasi saponin ini, langkah yang dilakukan adalah merajang sampai halus sampel yang sudah kering. Lalu ditambah dengan air suling dan didihkan selama 2-3 menit, kemudian di dinginkan. Setelah dingin di kocok kuat-kuat sampai timbul busa. Ternyata pada sampel ini setelah di kocok memang timbul busa yang permanent. Hal ini menandakan bahwa kayu manis mengandung saponin.
  
KESIMPULAN DAN SARAN
A.     Kesimpulan.
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan  yaitu :
a)      Kayu manis mengandung berbagai senyawa kimia yang bermanfaat seperti terpenoid dan saponin.
b)      Senyawa yang dikandung kayu manis ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan kesehatan seperti untuk obat diserntri, menurunkan kolesterol, dan lain-lain.
c)      Kayu manis ini dapat juga digunakan dalam bidang kesehatan yakni sebagai analgesi, stomakik dan aromatic.
  Jadi dari sini, dapat diketahui bahwa tanaman kayu manis yang oleh masyarakat awam hanya digunakan untuk memasak sebagai rempah, ternyata dapat digunakan untuk pengobatan tradisional dan lebih aman karenatidak mengandung zat-zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan.
B.     Saran.
Untuk paper ini disarankan dalam pengidentifikasian senyawa-senyawa dalam tanaman kayu manis harus menggunakan tanaman yang segar, diharapkan diambil sesaat sebelum pengidentifikasian, tidak dibiarkan selama berhari-hari karena bisa saja senyawa yang sebenarnya ada di dalam tanaman tidak teridentifikasi karena senyawanya sudah rusak. Kemudian peneliti harus cermat melakukan pengidentifikasian seperti dalam memasukkan tambahan-tambahan zat kedalam ekstrak kayu manis saya hasil yang didapat sesuai dengan yang diharapkan.
Selain itu penulis menyadari bahwa paper ini masih banyak memiliki kekurangan, sehingga penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca dan penulis berharap paper ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Sjamsul Arifin. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Karunia; Jakarta.
Effendi, Samsoeri. 1982. Ensiklopedi tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat yang ada di Nusantara. Karya anda; Surabaya.
Fessenden, Fessenden. 1982 . Kimia Organik Jilid II. Penerbit Erlangga; Jakarta.
Ketasen, R.S. 1990. Minyak Atsiri Jilid IV. Penerbit UI. Jakarta.
L. Tobing, Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi; Jakarta.
Matsteh, Sabirin. 1994. Kimia Organiok II. FMIPA UGM; Yogyakarta.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB; Bandung.
Sastroamidjojo, Seno. 1997. Tanaman Obat Asli Indonesia. Dian rakyat; Jakarta.
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. FMIPA UNP; Padang.
Tjitrosoeroma, Bembong. 1994. Taksonomi Tumbuhan Obat – obatan. UGM; Yogyakarta.
http / www. Google. Com.
Manfaat dari kayu manis. Dibawah ini ada beberapa penyakit yang bisa disembuhkan dengan ramuan dari kayu manis :

Sakit Perut
Madu yang dicampur bubuk kayu manis dapat mengobati sakit perut. Juga dapat membersihkan perut serta menyembuhkan bisul hingga keakar  - akarnya.

Kembung
Penelitian yang dilakukan di India dan Jepang menyatakan bahwa madu  yang diminum bersama kayu manis panas dapat membuat nafas tetap  segar sehari penuh. Orang Amerika Selatan biasa meminum ramuan tersebut dipagi hari.

Sakit Kepala dan Sinus
Minum campuran madu dan jus jeruk dapat menyembuhkan sakit kepala karena sinus.

Kelelahan
Warga usia lanjut yang mengkonsumsi madu dan bubuk kayu manis dengan   ukuran sama, terbukti lebih waspada dan fleksibel. Penelitian Dr. Milton membuktikan 1/2 sendok makan madu yang diminum bersama segelas air dan ditaburkan bubuk kayu manis dapat meningkatkan vitalis tubuh dalam seminggu. Ramuan tersebut diminum setiap hari  setelah menggosok gigi dan jam 3 sore pada saat vitalis tubuh menurun.

Kelebihan Berat Badan
Minum segelas air yang direbus bersama madu dan bubuk kayu manis
setiap pagi 1/2 jam sebelum sarapan atau saat perut masih kosong.  Bila dilakukan secara teratur dapat mengurangi berat badan, bahkan bagi orang yang sangat gemuk. Minum ramuan ini secara teratur akan  mencegah lemak terakumulasi dalam tubuh, meski tetap makan makanan kalori tinggi.

Influenza.
 Ilmuwan Spanyol telah membuktikan bahwa madu berisi kandungan alam yang membunuh kuman influenza dan menyembuhkan pasien dari flu. Maka minumlah madu ketika akan flu.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer Pekan Ini

Universitas Negeri Padang, Padang Ekspress

Loading...