Automatic translation of this blog page

Tuesday, December 6, 2011

Sejarah Lada

By Tarmizi, B.Sc., S,Pd
Sebelum Masehi biji lada sudah dikenal sebagai komoditi perdagangan yang mempererat hubungan Timur dan Barat. Dalam abad pertengahan 600-1500 pedagang-pedagang Arab mengangkut biji lada dari Pantai Malabar India ke negaranya untuk ditransfer ke Alexandria dan Itali. Perdagangan lada kian hari kian meningkat. Dalam awal tahun 1180 di London dibentuk suatu organisasi (gilde) oleh pedagang-pedagang lada. Hubungan perdagangan lada antara Jawa dan Cina tereatat mulai tahun 1200.








Senyawa kimia
Lada hitam
Lada putih
Kadar air %
8 ‑ 13
9,9 - 15
Zat protein %
11
11
Zat karbohidrat %
22 – 42
50 ‑ 65
Minyak atsiri %
1-4
kurang dari lada hitam
Piperine (alkaloid) %
5-9
5-9

Zat anorganik
Lada hitam
Lada putih
Zat P20 %
11,2
20,8
Zat Sulfur %
8,6
4,1
\Zat K 20 %
29,8
17,1
Zat kapur CaO %
16,1
18,1

Dalam tahun 1492, Columbus memulai pelayarannya untuk mencari sumber-sumber lada. Ia berlayar ke arah Barat dari Spanyol, dan menemukan Wes-India dan bukannya Oost Indie yang kesohor kaya dalam bidang rempah-rempah.

Columbus 
          Setelah Benua Afrika ditemukan oleh Columbus, maka dalam tahun 1498 Vasco de Gama dari Portugal memulai pelayarannya mengintari Tanjung Harapan dan menemukan daerah lada yang berada di Malabar India, Malaysia dan Goa. Sejak saat itulah perdagangan lada di bawah monopoli orang‑orang Portugal.
          Mulai dengan lada dan rempah-rempah lain, berkembanglah penjajahan orang‑orang Barat terhadap orang-orang Asia termasuk 1ndonesia. 1
          Tanaman lada yang sekarang banyak ditanam di Indonesia ada kemunrlcinan berasal dari. India. sebab pada tahun 1000-600 SM. banyak koloni Hindu yang datang ke Jawa. Pada abad XVI tanaman lada di Indonesia baru diusahakan secara kecil-kecilan di Jawa. Tetapi awal abad XVIII, tanaman tersebut telah diusahakan secara besar-besaran.
Tinjauan Tentang Lada
Berdasarkan cara pengolahannya lada ini didapatkan dua, jenis, yaitu lada bitam dan lada putih.  Pengolahan lada hitam.
          Untuk membuat lada hitam hasil pemetikan buah lada pada hari itu juga ditimbun selama dua tiga hari. Dalam keadaan diperam tersebut kulit buah berubah warna jadi hitam. Pemeraman tersebut di atas dapat diganti dengan merendam sejenak buah lada dalam air panas.
          Pemeraman dilanjutkan dengan penjemuran di bawah tarik matahari hingga kering. Seluruh buah yang melekat pada tangkai malai dilepaskan dengan cara menginjak-injaknya. Hasil penjemuran berbentuk.buah lada yang hitam kelam, kulitnya keriput, kemudian dibersikikan dari segala kotoran.
          Tanda-tanda lada hitam sudah cukup kering, ialah bila digenggam dalam tangan erat-erat, dan dilepaskan, buah keseluruhannya akan cepat bercerai‑cerai. Dari 100 kg buah hijau segar diperoleh 33‑36 kg lada hitam kering.
Pengolahan lada. putih
          Hasil pemetikan buah lada setiap hari, tanpa penundaan, segera dimasukan ke dalam keranjang atau karung. Kemudian dimasukkan ke dalam air yang mengalir atau bak yang airnya tidak mengalir.
          Perlu diperhatikan untuk tida mengiikut sertakan buah lada yang berjatuhan di atas tanah yang sudah membusuk. Buah lada yang membusuk ini bila dilah menjadi lada putih akan menghasilkan lada yang kering dan berbau apek bila disimpan agak lama. Maka buah lada yang sudah membusuk akan menurunkan kualitas, khususnya untuk lada ekspor.
          Kualitas air sangat menentukan kualitas lada putih. Air yang keruh banyak mengandung lumpur, atau berasal dari daerah tanah gambut yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan tidak mengalir akan menghasilkan lada yang warnanya keabu-abuan atau kehitam-hitaman.
          Tidak meratanya tingkat kemasakan buah, misalnya banyak buah yang masih hijau dapat menghasilkan lada yang bercampur baur dengan biji yang berwarna kehitam-hitaman.
          Buah lada yang masin hijau dagingnya, tidak bisa lekas lumat, memerlukan perendaman dan penjemuran dua kali, dengan akibat warna kehitam‑hitaman tersebut di atas.
          Lada putih yang warnanya kehitam-hitaman, biasanya sukar untuk dipisahkan dengan lada putih yang bersih.
          Perendaman berlansung 7-10 hari, yang dilansungkan dengan membersihkan biji dari kulit atau daging yang sudah membusuk. Membersihkan biji dalam keranjang, menginjak‑injak dengan kaki dalam air yang mengalir akan menghasilkan lada yang putih bersih.
          Bila tidak ada air yang mengalir, maka lada ditempatkan dalam bak atau ember, kemudian diinjak-injak. Setelah itu dicuci beberapa kali untuk dibersihkan dari segala tangkai dan kulit.
          Seusai pembersihan dilanjutkan dengan penjemuran di bawah sinar mata hari. Namun ada pula yang mengadakan perendaman sekali lagi selama 1‑2 hari untuk lebih meningkatkan kualitas.
C. Bercocok Tanam Lada
1. Botani tanaman lada
          TANAMIAN termasuk famili Piperaceae, yang terdiri dari 10-12 genera atau marga. Banyaknya spesies 1400, yang bentuknya beraneka ragam, dari herba, semak-semak, tanaman menjalar hingga pohon‑pobonan. Sifat-sifat 
tanaman lada.

Lada Indonesia dikenal dengan nama Muntok White Pepper  untuk lada putih dan Lampong Black Pepper  untuk lada hitam.
Lada juga disebut sebagai raja dalam kelompok rempah-rempah (King of Spices)  karena lada merupakan bahan baku industri makanan siap saji, obat-obatan, kosmetik yang paling banyak diperdagangkan.
Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi penghasil lada terbesar setelah Lampung dan Bangka Belitung.

Saat ini Kalbar memiliki produksi lada terbesar kelima se-Indonesia. Khusus Kalbar, Kabupaten Bengkayang adalah penghasil terbesar disusul Kabupaten Sambas. http://beta.kidnesia.com/Kidnesia2014/Indonesiaku/Teropong-Daerah/Kalimantan-Barat/Hasil-Bumi/Lada
a. Akar
          Dikenal dua jenis akar, yang dalam hakekatnya adalah sejenis, karena ada perbedaan letak, akibatnya terdapat fungsi yang berlainan.
1. Akar-akar yang tumbuh dari buku di dalam tanah, membentuk akar lateral dan berfungsi sebagai akar pengisap zat makanan (feeding roots).
2. Akar tumbuh dari buku-buku di atas tanah berfungsi sebagai akar pelekat, yang  menopang batang pokok.
b. Batang pokok dan cabang
Tanaman lada yang berbatang pokok satu pada hakekatnya membentuk dua jenis cabang (dimorphicy) ialah:
1. cabang orthotropis (vertikal)
2. cabang plagiotropis (horisontal).
Cabang-cabang orthotropis yang tumbuhnya vertikal membentuk kerangka dasar pohon lada, berdiameter 4-6 cm, mengayu dan terdiri dari ruas‑ruas yang rata-rata panjangnya 5-12 cm. Dari buku-buku antar ruas yang agak membengkak pertumbuhannya, tumbuh sehelai daun dan kuntum yang dapat tumbuh menjadi cabang yang plaglotropis dan akar
akar pelekat.
          Kedua jenis batang tersebut bercabang‑cabang yang orthotropis tumbuhnya naik ke atas dan yang plagiotropis membentuk cabang dan ranting yang tumbuhnya ke samping (lateral) dan biasa berbunga serta berbuah. Cabang‑cabang plagiotropis yang lateral itu buku‑bukunya tidak berakar. Maka untuk pembibitan dimamfaatkan cabang-cabang orthotropis.
c. Daun
          Daun bentuknya sederhana, tunggal, bentuk bulat telur, meruncing pucuknya, bertangkai panjang 2-5 cm dan membentuk auran di bagian atasnya. Ukuran daun 8-20 x 4-12 cam. Berurat 5-7 lielai, hijau tua warnanya, mengkilau bagian atasnya pucat di bagian bawah. Di bagaian bawah ini nampak titik‑titik kelenjar. Bentuk daun lada beraneka ragam, perbedaan ini berdasarkan letak tumbuhnya.
d. Bunga lada
          Bunga tanaman lada berbentuk Malai, Yang agak menggelantung, panjang 3‑25 cm, tidak bercabang, berporos tunggal, di mana tumbuh bunga kecil‑kecil berjumlah hingga 150 buah lebih.
e. Buah lada
Buahnya tidak bertangkai alias duduk, berbiji tunggal, bulat bentuknya, berdiameter 4-6 mm, berdaging, Kulitnya hijau bila masih muda dan merah bila.sudah masak,
2. Penyediaan bibit lada
          Bibit tanaman iada Yang biasanya berupa setek, dapat dibeli dari kebun‑kebun bibit pemerintah, dari tetangga atau dengan membuat seadiri. Bibit lada Yang diperoleh hendaklah memenuhi persaratan berikut: a. Terjamin kemumian jenis bibitnya. b. Bibit  diperoleh dari pohon induk Yang sehat. c. Bibit harus memiliki ukuran Yang optimal.
3. Menanam bibit lada
          Cara menanam bibit lada yang paling baik adalah dengan menempalkan setek di dalam tanah sedemikianrupa sehingga:
a. Dasar setek berada di dalam tanah sekitar 20-30 cm.
b. Setek diletakan di dasar lubang tanaman Yang miringnya 45' yang mengarah ke tiang pemanjat.
C. Empat ruas berada di dalam tanah dan sisanya tiga ruas berada di luar taliah dij.kat, pada alat.pemanjat.
d. Setelah ditanam lubang ditutup kembali dengan tanah yang halus, agak ditekan dan usahakan penutupan tanah agak cembung.
e. Untuk men!~hindari banyalctiya bibit yang mengering karena sinar mataflari diusahakan perlingdungan dengan daun daunan.
4. Femeliharaan kebun
a. Menjaga kondisi 1ahan.
b. Mengatur pertumbuhan.
c. Pembentukan selanjutnya.
d. Pemangkasan.
e. Saat berbunga dan panen buah.
D. Komposisi Kimia dan Khasiat Biji Lada
1. Komposisi kimia
          Sejak dahulu kala, biji lada digemari, dihargai, di perjuangkan oleh manusia, karena dua sifatnya yang khas yaitu, rasanya yang pedas dan aromanya yang khas. Kedua sifat tersebut menunjukan adanya penampilan dari bahan‑bahan kimiawi organik. Rasa pedas adalah akibat dari adanya zat; piperine, piperanine dan chavisin yang merupakan persenyawaan dari piperine dengan semacam alkaloida.
          Chavicin banyak berada dalam daging biji lada dan tidak akan hilang akibat dari penjemuran biji lada yang masih berdaging, hingga menjadi lada hitam. Aroma dari biji lada adalah akibat dari adanya minyak atsiri yang terdiri dari beberapa jenis minyak terpene (terpentin).
Tabel  Kadar Kimia Lada Hitam dan Lada Putih

Tabel  Kadar Zat Anorganik Biji Lada,

Minyak lada
Minyak atsiri lada baru dikeiial. tahun 1574. Kadar minyak atsirinya dan kadar bahan yang tidak menguap (non volatile extract) sangat tergantung dari jenis ladanya. Tinggi rendahnya kadar minyak-minyak tersebut dalam minyak lada menentukan tinggi rendahnya nilai aroma dalam jenis biji lada.
Oleoresin biji lada
          Oleoresin dapat diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai oleo (minyak) dan resin (damar), merupakan gugusan kimia yang terdiri dari minyak atsiri dan damar. Oleoresin biji lada mengandung zat piperine dan piperanine dan chavicine yang memberi sifat pedas pada biji lada  dan minyak-minyak atsiri.
Minyak atsiri lada tidak mengandung unsur-unsur pemedas tersebut dan hannya meningkatkan aroma biji lada belaka.
          Bentuk oleoresin lada adaiah benda padat yang vierupa kan campuran dari minyak atsiri dan resin yang tidak bisa menguap, serta terdiri dari baban‑bahan pemedas.
Oleoresin diperolell dengan jalan ekstraksi biji lada yang telah dilumatkan dan secepat mungkin dibubuhi bebera pa jenis bahan ekstraksi misalfiya aikohol, aceton, ether, ethylen diclorida dan sebagainya. hasil dari ekstraksi ini adalah bahan yang memiliki aroma dan rasa pedas dari biji lada asli.
          Biji lada dalam penyimpanan dapat kehilangan aromanya keadaan ini bisa dipercetlmat bila dijadikan bubuk, apalagi bila tempat penyimpanannya tidak cukup kedap udara.Oleore sin lada dapat dinyatakan praktis  tidak mudah rusak dalam tempat penyimpanan yang baik.
2. Khasiat biji lada
a. Untuk pengobatan
-         sebagai stimulans, pengeluaran keringat (diaphoretic)
-         untuk mengeluarkan angin (Carminativ)
-         sebagai peluruh air kencing (diuretic)
-         meningkatkan selera (nafsu makan)
-         meningkatkan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan
-         mempercepat pencernakan zat lemak
-         daun lada dapat dimamfaatkan sebagai insektisida terhadap ngengat dalam lemari pakaian
-         dipakal dalam ramuan obat rheumatik, bubuk lada dicampur dengan telur ayam setengah matang, sebagai obat kuat fisik bubuk dicampur deagan madu, untuk meningkatkan vitalitas.
-         Sebagai penyedap makanan.
E. Tinjauan Tentang Piperine
Piperine adalah suatu alkaloid dari lada (Piper nigrum). Kadar piperinenya berkisar dari 5‑9 persen. Piperine adalah suatu amida dari hidrolisisnya menghasilkan bagian‑bagian yang  akali asam piperic dan piperidine. Hydrolysis dari piperine dengan alkali memberikan asam piperic dan piperidine; alkaloid ini adalah amida piperidine dari asam piperic.
C17H19NO3 + H2O    →    C12H1004 + C5H11N
Piperin               + air           +KOH  asam piperic + piperidine
Sumber: Rismunandar, 1980, “Aksi Agraria, Bercocok Tanam Lada”, Jakarta, Kanisius

No comments:

Post a Comment

Tumbuhan Obat

Followers