Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Thursday, March 29, 2012

Pengaruh Bising pada Pendengaran


oleh Tarmizi, BSc, SPd



     Pendengaran  yang baik merupakan kebutuhan kita yang  sangat
pokok,  yang  selalu kita pergunakan untuk  berkomunikasi  dengan
dunia sekitar kita. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat  menda-
sar, yang membuat satu dengan lainnya saling mengerti. Kebanyakan
kita  tidak memikirkan berapa pentingnya alat pendengaran  terse-
but.  Bagaimana  kesulitan hidup yang bakal  terjadi,  seandainya
kita tak dapat mendengar dengan baik?

Kebisingan di sekitar kita
     Kebanyakan  anak  muda dan sebagian yang tua  saat  ini  tak
begitu  peduli  dengan kebisingan. Di dalam bis kota,  di  pasar,
ditoko, apalagi di paberik, kebisingan selalu terjadi. Sebenarnya
hal  ini bisa diatasi. Misalnya jika sang sopir bis kota  ditegur
oleh  banyak  penumpang yang tak suka musik yang  hingar  bingar,
tentulah ia akan mengurangi volume suara tape kasetnya. Ada  pula
diantara  kita yang menyukai musik yang hingar bingar  di  kamar.
Apakah  hal  ini ada dampaknya terhadap  pendengaran?  Ya,  walau
kadarnya untuk tiap orang berbeda.

     Bising  merupakan  bentuk semu suara yang  tak  dikehendaki,
dapat mengganggu pendengaran dalam lingkup frekuensi  pendengaran
manusia.  Bising,  seperti juga suara lainnya,  punya  intensitas
dalam  frekuensi  tertentu  yang bervariasi  dalam  jangka  waktu
tertentu.  Ada  tiga  hal yang memberi pengaruh  pada  telinga  :
adaptasi, perubahan ambang sementara, dan perubahan ambang tetap.

     Menurut dr.Thaufiq Boesoerie di R.S. Hasan Sadikin  Bandung,
adaptasi  itu sendiri merupakan frekuensi yang  terjadi  beberapa
peningkatan  ambang dengar pada saat telinga menerima bunyi,  dan
pada suara dengan intensitas di atas 70 dB. Ambang dengar  normal
kembali dalam 0,5 detik setelah bunyi berhenti.

     Ia  menjelaskan, peningkatan ambang akibat suara di atas  90
dB akan jadi tertinggi pada frekuensi sama dengan frekuensi bunyi
penyebab, dan dapat juga meninggalkan ambang dengar pada frekuen-
si lebih atau kurang dari itu.

     Kelelahan  terjadi bila suara berlangsung lebih lama  dengan
intensitas  yang  lebih tinggi. Peningkatan  ambang  dengar  akan
terjadi pada 0,5-1 oktaf di atas frekuensi suara penyebab kelela-
han.  Gejala ini akan berlangsung paling sedikit selama 2  menit,
dan  akan  normal kembali sebelum 16 jam. Pada  perubahan  ambang
yang  bersifat  menetap  sementara,  terjadi  peningkatan  ambang
dengar sebesar kira-kira 40 db dan memerlukan waktu 16 jam  untuk
normal lagi.

     Pada perubahan ambang yang menetap terjadi perubahan  perma-
nen  dari  mikrostruktur  serta fungsi  biokimiawi  dari  kohlea.
gelombang  mekanik  yang  masuk ke dalam cairan  di  kohlea  dari
frekuensi ovale akan dijalarkan mulai dari lingkaran basal hingga
ke  apeks. Nada tinggi merupakan gelombang pendek, sehingga  amp-
litudo  maksimal  akan  terjadi pada lingkaran  basal,  dan  nada
rendah  merupakan  gelombang panjang akan  terjadi  maplitudo  di
daerah apeks kohlea. Dengan demikian kerusakan organ Corti akibat
nada  tinggi sering terjadi akibat paparan bising adalah  sekitar
10-15  mm dari foramen ovale, yakni pada reseptor frekuensi  3000
Hz-6000 Hz.

Kesulitan mendengar
     Ketidakberesan atau kekacauan dalam percakapan adalah  tanda
awal dari kesulitan mendengar. Meskipun kebanyakan orang tak  mau
menerima hal itu, terutama dalam kelompok orang yang kurang dapat
berkonsentrasi pada seorang  pembicara tunggal akan menjadi lebih
kabur. Keadaan ini mengherankan, hal ini tak dapat diterima dapat
terjadi. Ia tidak senang mengikuti suatu pembicaraan banyak orang
atau  diskusi.  Tentu saja dalam semua keadaan ini  paling  mudah
untuk mencela orang lain yang berbicara kurang jelas.
     Ada 2 cara yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Pertama,
gangguan organ penghantar (conductive losses). Kehilangan penden-
garan  terjadi akibat kerusakan organ penghantar, sehingga  alat-
alat  ini tidak ke ruangan telinga bagian dalam.  Kerusakan  yang
terjadi  dapat pada kendang (selaput telinga) dan bisa juga  pada
tulang-tulang kecil dalam telinga.

     Penyebab yang kedua adalah gangguan saraf pendengar (precep-
tive  losses). Kehilangan pendengaran ini disebabkan organ  saraf
dan pusat saraf di otak tak mampu menerjemahkan rangsang  getaran
suara menjadi suatu tanda yang bermakna.

     Urutan kemampuan mendengar sering kali agak sukar diketahui,
terutama  jika  terjadi sedikit demi sedikit  dan  memakan  waktu
lama.  Apabila tidak disertai tanda-tanda adanya rasa sakit, atau
tidak  enak, sehingga yang bersngkutan tidak begitu  menghiraukan
dan seakan tidak ada masalah.

     Salah  satu indikasi seorang menderita  kesulitan  mendengar
adalah, mereka tidak dapat membedakan bicara, atau bila ada suara
yang  keras  atau  gaduh tetapi tidak timbul  reaksi.  Juga  bila
kebutuhan  dalam mendengar suara radio atau televisi  jauh  lebih
keras dari orang biasa di sekitarnya.
     Orang  yang menderita kurang pendengaran lebih mudah  lelah,
karena untuk memperoleh pengertian pembicaraan memerlukan  perha-
tian  dan konsentrasi yang lebih besar dari biasanya.  Kebanyakan
orang  dengan  gangguan  pendengaran condong  menarik  diri  dari
kegiatan lingkungan sosial dan akhirnya menyendiri.


Tumbuhan Obat

Followers