Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Tuesday, August 31, 2010

AMANKAH SEMUA PENGANAN JAJAN DI INDONESIA ?
by Tarmizi
Ramadhan ya Ramadan, berburu tajil .....

Jajan bagi masyarakat bangsa kita sudah menjadi kebiasaan, bahkan dapat dikatakan sebagai bagian dari pola makan bangsa Indonesia. Selain berfungsi sebagai selingan, jajan berperan menjadi sarana peningkatan gizi. Misalnya yang paling efektif adalah bakso dan sate, jenis makanan yang banyak digemari baik di kota maupun di desa. Secara tidak disadari melalui pedagang bakso dan sate keliling, kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi walau takarannya baru sebagian kecil. secara tidak langsung para pedagang tadi memasyarakatkan daging sapi kepada seluruh lapisan masyarakat.

Berbagai jenis fast-food sudah menggejala pada masyarakat kota besar. Jenis makanan impor ini memberi warna baru dalam variasi penduduk kota, bahkan beberapa pengusaha makanan dalam resep dalam negeri telah mencoba menunya menjadi fast-food yang sedap. Selain menjadi snack, aneka fast-food juga berperan menjadi menu pokok, nilai kalori dan nilai gizinya bisa diandalkan untuk pemenuhan gizi sehari hari, terutama bagi masyarakat yang sibuk.
Menurut Dr.Gandung Hartono dari Direktorat Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan dan Pemukiman Depkes, munculnya kasus kesakitan adakalanya disebabkan memakan jajan tercemar. Para konsumen kurang memperhatikan kebersihan makanan yang mungkin telah basi, tercemar bakteri, teroksidasi unsur kimia serta zat organik karena adanya bahan aditif (pengawet, pewarna, pemanis, pengental, penyedap rasa dan aroma, penambahan gizi). Banyak penjaja makanan di sembarang tempat seperti dekat sampah, dekat selokan, di pinggir jalan yang berdebu atau makanan itu sendiri yang tidak ditutup.

Mengatasi kebiasaan jajan pada anak.
Yang paling banyak diantara pejajan adalah anak-anak sekolah dan balita. Untuk mengatasi atau mengurangi kebiasaan jajan dianjurkan beberapa cara.
1. anak diajari memilih jajan yang bersih dan jenis makanan yang aman.
2. anak diberi sarapan atau makan pagi dulu sebelum berangkat ke sekolah, kalau dapat bervariasi jenisnya agar mereka tidak bosan.
3. membekali anak dengan kue-kue ke sekolah (kalau dapat).
4. Pulang sekolah mereka disuguhi buah-buahan atau yang lain.

Adanya zat yang berbahaya dalam makanan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pernah mengadakan pengujian terhadap berbagai jenis makanan jajanan yang dijajakan di Sekolah beberapa SD di wilayah Jakarta Selatan. Ternyata, ba nyak makanan jajanan yang menggunakan zat pewarna berbahaya seperti Methanyl Yellow dan Rhodamin yang bersifat racun dan berbahaya bagi pertumbuhan seseorang. Melalui pengujian pada laboratorium PPMB Departemen Perdagangan, YLKI juga menemukan beberapa zat pewarna untuk tekstil , pewarna tembok pada beberapa jenis makanan seperti manisan kedondong, es campur, limun dan beberapa kue warna-warni. Pada jenis makanan seperti makanan seperti empek-empek, pisang molen, mie ayam, pangsit dan batagor dijumpai
bahan pengawet berupa formalin dan boraks. Depkes melalui BPOM
Surabaya, Semarang, Samarinda, Banjarmasin, Palembang dan Pekan Baru menyita garam bleng yang dipakai untuk pembuatan kerupuk, mie, bakso atau otak-otak, karena ia dicampur dengan pengawet boraks. Boraks umumnya dikenal sebagai pembersih dan pengawet kayu, untuk solder atau kosmetik dengan kemurnian tinggi. Boraks mulai dilaporkan beracun sejak 1883, namun di Indonesia masih dipakai sebagai pengawet pada makanan.

Keracunan melalui makanan
Formalin adalah zat yang mengandung alkohol sebagai penghiolang bau, antiseptik dan fumigan. Di labor formalin dipakai sebagai pengawet hewan dan di kamar mayat rumah sakit sebagai pengawet mayat. Ternyata beberapa produsen mie yang tidak mengerti akibat penggunaan bahan terse-but untuk pembuatan mie, padahal injeksi 3 ons formalin dapat menyebabkan kematian dalam 3 jam. Baik melalui injeksi ataupun oral akan cepat bereaksi dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Secara cepat teroksidasi menjadi asam format terutama di organ hati dan sel darah merah.
Keracunan formalin dapat dilihat gejalanya, yaitu rasa sakit disertai muntah-muntah, depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah, muntah darah dan lebih parah lagi dapat menyebabkan kematian. Begitupun dengan penumpukan boraks di dalam tubuh, secara klinis dan patologis menyerang syaraf pusat, sistem pencernaan ginjal, hati dan kulit. Boraks dapat terserap melalui selaput lendir atau kulit terluka, beberapa jam kemudian timbul gejala keracunan. Dalam tes terhadap orang-orang dewasa, penyuntikan 20 gram boraks mengakibatkan muntah-muntah, diare, dan gangguan mental beberapa hari.

Pengendalian
Produsen atau pedagang belum tahu bahaya pengawet, pewarna, dan pemanis sintetis. Dalam hal ini peranan pemerintah diperlukan dalam memberikan penyuluhan, terutama terhadap pedagang kecil. Contohnya pada label "sakarin" tidak dicantumkan bahaya penggunaan pemanis buatan ini terhadap orang normal, seolah-olah hanya campuran gula biasa, padahal hanya dianjurkan bagi penderita kencing manis (diabetes), atau orang yang perlu diet. Departemen Perindustriaan hanya menargetkan 600 ton pemanis, namun di lapangan ada 11 pabrik yang memproduksinya dan akibatnya tiap tahun kelebihan 5.500 ton. Pedagang dan pengelola makanan memenfaatkan ini menghemat biaya, walau dalam pengujian diketahui sakarin (natrium sakaroida) maupun sarimanis (natrium siklamat) menyebabkan tumor pada kandungan kemih tikus.

Tabel Nama-nama beberapa zat pewarna sintetik yang dilarang
digunakan di dalam makanan.
No.
Nama senyawa
No.
Nama senyawa
1
Auramine
11
Fast Yellow AB
2
Alkanet
12
Guinea Green B
3
Butter Yellow
13
Indanthrene Blues RS
4
Black 7984
14
Magenta
5
Burn Umber
15
Methyl Yellow
6
Chrysoidine
16
Oil Orange SS
7
Chrysoine S
17
Oil Orange XO
8
Citrus Red No. 2
18
Oil Yellow AB
9
Chocolate brown FB
19
Oil Yellow OB
10
Fast Red E
20
Orange G
(Sumber: Sunarsih, 1997)
Sekarang kita tak usah terlalu cemas, dan marilah kita sambut gembira usaha dari Kanwil Kesehatan Jakarta, yang sudah dan akan meningkatkan penyuluhan kepada pedagang dan produsen tahu, tempe dan bakso, supaya mereka memperhatikan unsur kesehatan.
Sebenarnya mereka dapat menggunakan bahan penggantinya yang akan memberi hasil yang lebih bermutu, lezat dan aman. Penganan tahu akan lebih tahan selama lebih dari 9 hari, jika kedelainya direndam dulu dalam air 4-7oC, atau akan tahan 6 hari jika direndam dalam benzoat 0,5%, atau akan tahan 3 hari kalau direndam dalam benzoat 1.000 ppm. Sementara untuk pengganti boraks pengenyal bakso, diusulkan pemakaian potasium sorbat 0,5 hingga 3 gram tiap kg daging.
Pada tahun 1995 hingga 1998 pernah kita baca larangan atau peringatan untuk tidak mengkonsumsi mie kuning dan kerupuk merah yang warnanya terlalu cerah. Yang warnanya wajar, tidak masalah. Pada masa itu setelah diteliti oleh Depkes dan BPOM, ternyata kedua bahan makanan tersebut diberi pewarna yang tidak lazim untuk makanan. Nah, sekarang pun jika Anda menemukan kerupuk merah yang warnanya merah menyala misalnya, itu diragukan zat pewarnanya yang dipakai. Jangan-jangan pewarna tekstil atau wanteks seperti masa silam. Kalau Anda ragu, lebih baik jangan mengkonsumsinya. Dan kalau anda yakin pewarnanya tidak tepat, juga harus dihindarkan. Kenapa demikian? Karena tidak semua produk terpantau oleh badan yang berwenang di negeri kita ini. Apalagi produk yang tidak terdaftar dan tidak mendapat legalitas/izin usaha.
Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti Anda, melain sebagai media pencerdasan bagi yang kurang tahu. Seperti iklan di Siaran Niaga pada TVRI di masa lampau, “Teliti sebelum membeli”. Nah, semoga Anda pengusaha makanan yang sudah insaf, tentulah tidak melanjutkan pemberian zat tambahan makanan (food aditif) sembarangan. Kita tahu, Tuhan tidak suka pada insan yang selalu menipu masyarakat, dan juga dirinya sendiri tentunya.
Tarmizi, Bsc, S.Pd
Referensi : Majalah Panasea, Juli 91; Majalah Panasea, Juni 92; Majalah Rumah Tangga dan Kesehatan 89; Harian Singgalang, 18 April 93;
Food Chemistry, Fiesher, 69; Kimia Pangan, Winarno, 87; Zat aditif, 1997

Tumbuhan Obat

Followers