Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Thursday, July 10, 2014

Memperlambat Pnuaan


Oleh Tarmizi, BSc., S.Pd
Perusakan oleh radikal bebas


Antioksidan
Beberapa antioksidan
Sumber antioksidan
                Meski bukan cita-cita, penuaan memang hampir tak mungkin dielakkan, lambat laun tetap terjadi. Secara prlahan tapi pasti, sel-sel tubuh mengalami proses perusakan, diantaranya disebabkan oleh radikal bebas. Jika tak dihambat oleh antioksidan, dalam tubuh radikal bebas akan reaktif dan sangat ganas merusak keutuhan sel. 
Penuaan (Inggris:Aging) adalah hasil akumulasi dari perubahan organisme atau objek karena waktu. Penuaan pada manusia berkaitan dengan proses multidimensional fisik, psikologis dan perubahan sosial. Umur merupakan ukuran secara kronologis, dan ulang tahun seseorang merupakan hal yang penting dalam masalah "penuaan".

            Molekukl radikal bebas tak memiliki pasangan. Akibatnya elektron bebas tadi aktif mendapatkan pasangan, dengan cara bereaksi bersama molekul lain. Sayangnya, cara ini merusak sel di sekitarnya, sekaligus membentuk radikal bebas yang baru. Begitu seterusnya perusakan akan berlanjut jika tak diredam dengan antioksidan.
            Secara sederhana perhatikan saja margarin yang sengaja dibuka. Setelah bereaksi dengan udara luar, dalam beberapa saat akan tercium bau tengik. Contoh lain kalau apel, pisang atau kentang dikupas, warnanya akan segera berubah menjadi coklat akibat pengaruh udara. Kejadian ini mirip dengan yang terjadi dalam tubuh kita akibat pengaruh radikal bebas.
            Pada margarine, bau tengik berasal dari interaksi antara oksigen dengan lemak. Apabila antioksidan lengkap dan memadai, proses ketengikan akan terkontrol dan bahkan terhalang. Begitu juga kejadiannya di dalam tubuh manusia, keberadaan antioksidan akan memelihara bentuk normal sel sehingga tak mengalami perubahan yang menjadikan tetap muda.
            Gejala uzur dapat diperlambat, antara lain dengan mengkonsumsi makanan seimbang dan padat gizi, terutama golongan antioksidan.
            Antioksidan seperti betakaroten, vitamin-C, vitamin-E, selenium, dan seng memiliki peranan penting untuk memperlambat penuaan. Melalui berbagai penelitian diketahui, antioksidan tidak hanya sekadar menagnkal penuaan, sekaligus dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit kanker.
            Antioksidan juga akan memperbaiki kerusakan DNA pembawa sifat) yang disebabkan oleh radikal bebas. Dengan keistimewaannya, antioksidan akan menolong percepatan perbaikan DNA. Zat antioksidan tak sekadar meredam radikal bebas, juga membersihkan sekaligus melindungi sel dari kerusakan, caranya dengan menetralisir radikal bebas yang terlanjur ada di sel.
Selain memperlambat proses penuaan dan mencegah penyakit kanker, antioksidan  juga dapat meningkankan kekebalan tubuh. Ketersediaan antioksidan yang memadai di dalam tubuh akan meningkatkan kemampuan tubuh dalam memukul mundur serangan organisme penyebab penaykit seperti bakteri.
Sampai kini, belum ada tandingan antioksidan untuk melindungi tubuh melawan kerusakan sel. Di dalam tubuh, antioksidan akan menyerang dan menetralkan kereaktifan radikal bebas, dan mengubahnya dari ganas menjadi jinak.
            Vitamin E merupakan antioksidan terkuat dari sejumlah antioksidan. Selain melindungi membran sel, vitamin yang larut dalam lemak ini, juga dapat  meningkatkan penyerapan vitamin A.
Jenis antioksidan lainnya adalah vitamin-C. Vitamin yang larut dalam air dan harus ada dalam hidangan sehari-hari ini mampu bergerak cepat dalam menangkal radikal bebas. Vitamin C juga membantu pembentukan kalogen dan memperkuat kerja vitamin E.
Betakaroten juga bersifat antioksidan dan banyak terdapat dalam sayuran terutama yang bewarna hijau, juga dalam buah-buahan dan umbi-umbian yang bewarna kemerahan. Zat pembentuk vitamin A (provitamin A) ini merupakan peredam oksidasi yang paling potensi.
Beberapa mineral juga bersifat antioksidan. Antioksidan jenis mineral ini biasanya bekerja sebagai komponen enzim, sehingga sangat tepat meredam radikal bebas yang terjadi melalui proses enzimatis. Beberapa mineral penting itu adalah selenium (Se) dan seng (Zn).
            Antioksidan terdiri dari vitamin E, vitamin C, provitamin A (betakaroten). Vitamin E sangat terbantu keberadaannya dalam makanan yang banyak mengandung bahan lemak, seperti ikan, daging dan produk susu. Vitamin E dalam pangan nabati ada pada gandum, biji bunga matahari, kacang-kacangan, sayuran hijau tua, minyak kedelai, dan minyak jagung.
            Berbeda dengan vitamin E, kecukupan vitamin C tubuh telah diukur yaitu 60 mg per hari. Untuk mencapai angka itu, dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup akan dapat terpenuhi dengan baik.
            Betakaroten banyak terdapat dalam sayuran hijau, seperti bayam, terung, leunca, kacang polong, brocoli, wortel. Sedangkan buah yang banyak mengandung betakaroten antara lain pepaya, semangka, dan apricot.
            Sayuran dan buah-buahan memang disarankan banyak dikonsumsi. Ternyata hampir semua mineral yang berfungsi sebagai antioksidan terdapat pada buah-buahan dan sayuran.
            Kalau makanan sehari-hari para lansia (lanjut usia) telah mengandung antioksidan, namun untuk mengoptimalkan fungsinya maka perlu diperhitungkan.  Misalnya vitamin C, untuk menurunkan kolesterol diperlukan 300-500 mg tiap hari, dan untuk melawan kanker dibutuhkan 2000 mg per hari.
            Supaya vitamin E berkhasiat sebagai antioksidan, setiap hari tak boleh kurang dari 30 mg. Sedangkan betakaroten dalam menurunkan risiko penyakit kanker dan penyakit jantung, menurut bukti ilmiah perlu dikonsumsi 20 mg per hari.

Sumber ide: Panasea 118 Desember 1995.

Tumbuhan Obat

Followers