Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Tuesday, July 8, 2014

GANGGUAN SISTEM SARAF Epilepsi


            Sistem saraf merupakan sistem yang sangat rumit pada tubuh manusia yang berfungsi mengatur penerimaan, ponghantaran, dan pemberian tanggapan terhadap rangsang, baik rangsang dari dalam maupun dari luar tubuh.

Ayan (Epilepsi)
Epilepsi merupakan kelainan otak yang mengakibatkan penderita sensitif terhadap kejang yang berulang-ulang. Gejalagejala umum epilepsi, antara lain: kejang yang berulang-ulang, pandangan mata kosong, tidak sadarkan diri, keluar busa dari mulut, dan lain-lain.
Epilepsi (berasal dari kata kerja Yunani Kuno πιλαμβάνειν yang berarti "menguasai, memiliki, atau menimpa")[1] adalah sekelompok gangguan neurologis jangka panjangyang cirinya ditandai dengan serangan-serangan epileptik.[2] Serangan epileptik ini episodenya bisa bermacam-macam mulai dari serangan singkat dan hampir tak terdeteksi hingga guncangan kuat untuk periode yang lama.[3] Dalam epilepsi, serangan cenderung berulang, dan tidak ada penyebab yang mendasari secara langsung [2]sementara serangan yang disebabkan oleh penyebab khusus tidak dianggap mewakili epilepsi.[4]

Dalam kebanyakan kasus, penyebabnya tidak diketahui, walaupun beberapa orang menderita epilepsi sebagai akibat dari cedera otak, stroke, kanker otak, dan penyalahgunaan obat dan alkohol, di antaranya. Kejang epileptik adalah akibat dari aktivitas sel saraf kortikal yang berlebihan dan tidak normal di dalam otak.[4]Diagnosisnya biasanya termasuk menyingkirkan kondisi-kondisi lain yang mungkin menyebabkan gejala-gejala serupa (seperti sinkop) serta mencari tahu apakah ada penyebab-penyebab langsung. Epilepsi sering bisa dikonfirmasikan dengan elektroensefalografi (EEG).
Epilepsi tidak bisa disembuhkan, tetapi serangan-serangan bisa dikontrol dengan pengobatan pada sekitar 70% kasus.[5] Bagi mereka yang serangannya tidak berespon terhadap pengobatan, bedahstimulasi saraf atau perubahan asupan makanan bisa dipertimbangkan. Tidak semua gejala epilepsi berlangsung seumur hidup, dan sejumlah besar orang mengalami perbaikan bahkan hingga pengobatan tidak diperlukan lagi. Epilepsi seperti halnya tuberkulosis pengobatannya harus tuntas, walaupun tampaknya sudah sehat. Pada epilepsi pengobatan dihentikan satu tahun setelah serangan terakhir.
Sekitar 1% penduduk dunia (65 juta) menderita epilepsi,[6] dan hampir 80% kasus muncul di negara-negara berkembang.[3] Epilepsi menjadi lebih sering ditemui seiring dengan berjalannya usia.[7][8] Di negara-negara maju, gejala awal dari kasus-kasus baru muncul paling sering di kalangan anak-anak dan manula;[9] di negara-negara berkembang paling sering muncul di kalangan anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa muda,[10] karena perbedaan dalam kekerapan penyebab-penyebab yang mendasarinya. Sekitar 5–10% dari semua orang akan mengalami kejang tanpa sebab sebelum mencapai usia 80,[11] dan kemungkinan mengalami serangan kedua berkisar antara 40 dan 50%.[12] Di banyak wilayah dunia, mereka yang menderita epilepsi dibatasi dalam mengemudi atau tidak diperbolehkan sama sekali,[13] tetapi kebanyakan bisa kembali mengemudi setelah periode tertentu bebas serangan.
Epilepsi ditandai dengan risiko jangka panjang untuk terjadinya serangan berulang.[14] Serangan ini bisa terjadi dalam beberapa cara tergantung pada bagian otak mana yang terlibat dan usia penderita.[14][15]
Serangan[sunting | sunting sumber]
Jenis serangan epilepsi yang paling umum (60%) adalah konvulsi/kejang.[15] Dari serangan-serangan ini, dua per tiga mulai dengan serangan kejang fokal (yang kemudian bisa menjadi umum) sementara sepertiganya mulai dengan serangan kejang umum.[15] Sisa 40% jenis serangan lainnya adalah non konvulsi. Contoh dari jenis ini adalahserangan absans, yang menunjukkan adanya penurunan level kesadaran dan biasanya berlangsung sekitar 10 detik.[16][17]
Serangan epilepsi fokal sering diawali dengan pengalaman tertentu, yang dikenal sebagai aura.[18] Ini bisa termasuk: fenomena indera (penglihat, pendengar atau pembau), psikis, otonomik, atau motorik.[16] Kekejangan bisa mulai dengan sekelompok otot tertentu dan menyebar ke kelompok otot sekitarnya yang dikenal sebagai serangan epilepsi Jacksonian.[19] Otomatisme bisa terjadi; ini adalah gerakan yang tidak disadari dan kebanyakan gerakan berulang sederhana seperti memainkan bibir atau gerakan yang lebih kompleks seperti mencoba mengambil sesuatu.[19]
Ada enam jenis utama serangan epilepsi umum: tonik-klonik, tonik, klonikmyoklonik, absans, dan serangan atonik.[20] Semuanya melibatkan hilangnya kesadaran dan biasanya terjadi tanpa peringatan. Serangan tonik-klonik terjadi dengan kontraksi anggota tubuh diikuti dengan ekstensi disertai dengan punggung melengkung ke belakang yang berlangsung selama 10–30 detik (fase tonik). Jeritan mungkin terdengar karena kontraksi otot-otot dada. Ini kemudian diikuti dengan gerakan anggota tubuh secara serempak (fase klonik). Serangan tonik menyebabkan kontraksi otot terus-menerus. Penderita sering menjadi biru karena pernafasan terhenti.Dalam serangan klonik anggota tubuh bergerak serempak. Setelah gerakan terhenti, penderita mungkin perlu waktu 10–30 menit untuk kembali normal; periode ini disebut "fase postiktal".
Hilangnya kontrol buang air besar atau air kecil bisa muncul selama serangan epilesi.[3] Ujung atau sisi lidah bisa tergigit selama serangan epilespi.[21] Dalam kejang tonik-klonik, gigitan pada sisi lidah lebih sering terjadi.[21] Gigitan lidah juga cukup biasa terjadi dalam serangan psikogenik non-epileptik.[21]
Serangan miotonik melibatkan kejang otot di beberapa atau di seluruh area.[22] Serangan absans [kehilangan kesadaran mendadak] bisa tersamar dengan hanya kepala menoleh sedikit atau mata berkedip-kedip.[16] Orangnya tidak terjatuh dan kembali normal setelah serangan terhenti.[16] Serangan atonik melibatkan hilangnya aktivitas otot selama lebih dari satu detik.[19] Ini biasanya terjadi di kedua sisi tubuh.[19]
Sekitar 6% dari penderita epilepsi mengalami serangan yang sering dipicu oleh kejadian-kejadian khusus dan dikenal sebagai serangan refleks.[23] Penderita epilepsi refleksmengalami serangan yang hanya dipicu oleh rangsangan tertentu. [24] Pemicu umum termasuk kilatan cahaya dan suara-suara tiba-tiba.[23] Pada epilepsi jenis tertentu, serangan lebih sering terjadi pada saat tidur,[25]dan pada jenis lain serangan-serangan terjadi hampir hanya waktu tidur.[26]
Penyebab:
            Gejala epilepsi tidaklah sama pada setiap orang, dan biasanya penyebabnya sering kali tidak diketahui. Namun beberapa penyebab berikut ini dapat mengakibatkan epilepsi.
·        Stroke atau kanker otak
·        Keracunan zat kimia tertentu
·        Penyakit yang disebabkan oleh infeksi, misalnya: infeksi sumsum tulang belakang, infeksi selaput otak, gangguan metabolisme, dan lain-lain.
Pengobatan epilepsi :
·        15 gram jahe, 30 gram akar daun hia/baru cina Sumatera (beunghar kucicing Sunda, jukut lokot mala, suket ganjahan Jawa), dan gula merah secukupnya direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
·        30 gr daun jinten,7 lembar daun sambung nyawa, 30 gram daun sambiloto (empedu tanah), 30 gram daun sidukung anak (meniran), dan gula merah secukupnya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Setelah disaring, airnya diminum selagi hangat.
·        60 gram daun lidah buaya yang sudah dikupas kulitnya direbus dengan 600 cc hingga tersisa 300 cc. Air rebusannya diminum selagi hangat.
Lenglengan dengan akarnya 5 batang, daun jeruk manis 11 lembar, jaringau 3 jari tangan.  Bahan dicuci bersih, rebus dengan 20 gelas air, biarkan mendidih 19
menit, saring. Tambahkan air dingin sampai hangat kuku. Gunakan untuk air mandi. Lakukan 2 kali sehari.

Makanlah sayur kankung untuk penenang. Dan tambahkan  juga irisan biji pala pada sup.
daun pegagan
·        Daun pegagan (pegago) 20 lembar, daun jintan 10 lembar, daun poko 20 lembar, temuhitam 1 jari tangan, kencur 3 umbi. Temu hitam dan kencur dicuci bersih dan diiris tipis. Rebuslah bersama bahan lain dengan 5 gelas air hingga tinggal 3 gelas. Angkat dan saring. Diminum tiap sudah makan ½ gelas 3 x sehari.
·        Daun sidukung anak (meniran) 2 lembar, daun sangket 17 lembar, biji pala ¼ biji. Cara membuatnya sama dengan ramuan di atas.Pilih satu resep tersedia dan
     lakukan secara teratur 2 kali sehari.
daun jinten
daun sambung nyawa
Pilih satu resep tersedia dan lakukan secara teratur 2 kali sehari.
Lidah buaya dikupas kulitnya
jahe
Temuhitam
Referensi
  1.  Magiorkinis E, Kalliopi S, Diamantis A (January 2010). "Hallmarks in the history of epilepsy: epilepsy in antiquity". Epilepsy & behavior : E&B 17 (1): 103–108. doi:10.1016/j.yebeh.2009.10.023. PMID 19963440.
  2. Chang BS, Lowenstein DH (2003). "Epilepsi". N. Engl. J. Med. 349 (13): 1257–66. doi:10.1056/NEJMra022308. PMID 14507951.
  3. "Epilepsi". Fact Sheets. World Health Organization. October 2012. Diakses January 24, 2013.
  4. Fisher R, van Emde Boas W, Blume W, Elger C, Genton P, Lee P, Engel J (2005). "Epileptic seizures and epilepsi: definitions proposed by the International League Against Epilepsi (ILAE) and the International Bureau for Epilepsi (IBE)". Epilepsia 46 (4): 470–2. doi:10.1111/j.0013-9580.2005.66104.x. PMID 15816939.
  5. Eadie, MJ (December 2012). "Shortcomings in the current treatment of epilepsi.". Expert review of neurotherapeutics 12 (12): 1419–27. doi:10.1586/ern.12.129. PMID 23237349.
  6. Thurman, DJ; Beghi, E; Begley, CE; Berg, AT; Buchhalter, JR; Ding, D; Hesdorffer, DC; Hauser, WA; Kazis, L; Kobau, R; Kroner, B; Labiner, D; Liow, K; Logroscino, G; Medina, MT; Newton, CR; Parko, K; Paschal, A; Preux, PM; Sander, JW; Selassie, A; Theodore, W; Tomson, T; Wiebe, S; ILAE Commission on, Epidemiology (September 2011). "Standards for epidemiologic studies and surveillance of epilepsy.". Epilepsia. 52 Suppl 7: 2–26. doi:10.1111/j.1528-1167.2011.03121.x. PMID 21899536.
  7. Brodie, MJ; Elder, AT, Kwan, P (November 2009). "Epilepsi in later life". Lancet neurology 8 (11):
  8.  Holmes, Thomas R. Browne, Gregory L. (2008). Handbook of epilepsi (ed. 4th). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 7. ISBN 978-0-7817-7397-3^ Wyllie's treatment of epilepsi : principles and practice. (ed. 5th). Philadelphia: Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins. 2010. ISBN 978-1-58255-937-7.
  9. Newton, CR (29 September 2012). "Epilepsy in poor regions of the world.". Lancet 380 (9848): 1193–201. doi:10.1016/S0140-6736(12)61381-6. PMID 23021288.
  10. Wilden, JA; Cohen-Gadol, AA (15 August 2012). "Evaluation of first nonfebrile seizures.". American family physician 86 (4): 334–40. PMID 22963022.
  11.  Berg, AT (2008). "Risk of recurrence after a first unprovoked seizure". Epilepsia. 49 Suppl 1: 13–8. doi:10.1111/j.1528-1167.2008.01444.x. PMID 18184149.
  12. Devlin, A; Odell, M; L Charlton, J; Koppel, S (December 2012). "Epilepsy and driving: current status of research.". Epilepsy research 102 (3): 135–52. doi:10.1016/j.eplepsyres.2012.08.003. PMID 22981339.
  13.  Duncan, JS; Sander, JW, Sisodiya, SM, Walker, MC (1 April 2006). "Adult epilepsi.". Lancet 367 (9516): 1087–100. doi:10.1016/S0140-6736(06)68477-8. PMID 16581409.
  14. National Institute for Health and Clinical Excellence (January 2012). "Chapter 1: Introduction". The Epilepsies: The diagnosis and management of the epilepsies in adults and children in primary and secondary care. National Clinical Guideline Centre. hlm. 21–28.
  15.  Hammer, edited by Stephen J. McPhee, Gary D. (2010). "7". Pathophysiology of disease : an introduction to clinical medicine (ed. 6th ed.). New York: McGraw-Hill Medical. ISBN 978-0-07-162167-0.
  16.  Hughes, JR (August 2009). "Absence seizures: a review of recent reports with new concepts.". Epilepsi & behavior : E&B 15 (4): 404–12. doi:10.1016/j.yebeh.2009.06.007. PMID 19632158.
  17. Shearer, Peter. "Seizures and Status Epilepticus: Diagnosis and Management in the Emergency Department". Emergency Medicine Practice.
  18. Bradley, Walter G. (2012). "67". Bradley's neurology in clinical practice. (ed. 6th ed.). Philadelphia, PA: Elsevier/Saunders. ISBN 978-1-4377-0434-1.
  19. National Institute for Health and Clinical Excellence (January 2012). "Chapter 9: Classification of seizures and epilepsy syndromes". The Epilepsies: The diagnosis and management of the epilepsies in adults and children in primary and secondary care. National Clinical Guideline Centre. hlm. 119–129.
  20. Engel, Jerome (2008). Epilepsi : a comprehensive textbook (ed. 2nd ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 2797. ISBN 978-0-7817-5777-5.
  21. Simon, David A. Greenberg, Michael J. Aminoff, Roger P. (2012). "12". Clinical neurology (ed. 8th ed.). New York: McGraw-Hill Medical. ISBN 978-0-07-175905-2.
  22. Steven C. Schachter, ed. (2008). Behavioral aspects of epilepsi : principles and practice (ed. [Online-Ausg.].). New York: Demos. hlm. 125. ISBN 978-1-933864-04-4.
  23.  Xue, LY; Ritaccio, AL (March 2006). "Reflex seizures and reflex epilepsi.". American journal of electroneurodiagnostic technology 46 (1): 39–48. PMID 16605171.
  24.  Malow, BA (November 2005). "Sleep and epilepsi.". Neurologic Clinics 23 (4): 1127–47. doi:10.1016/j.ncl.2005.07.002. PMID 16243619.
  25.  Tinuper, P; Provini, F; Bisulli, F; Vignatelli, L; Plazzi, G; Vetrugno, R; Montagna, P; Lugaresi, E (August 2007). "Movement disorders in sleep: guidelines for differentiating epileptic from non-epileptic motor phenomena arising from sleep.". Sleep medicine reviews 11 (4): 255–67. doi:10.1016/j.smrv.2007.01.001. PMID 17379548.
  26.  Holmes, Thomas R. (2008). Handbook of epilepsi (ed. 4th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 34. ISBN 978-0-7817-7397-3.
  27. Panayiotopoulos, CP (2010). A clinical guide to epileptic syndromes and their treatment based on the ILAE classifications and practice parameter guidelines (ed. Rev. 2nd ed.). [London]: Springer. hlm. 445. ISBN 978-1-84628-644-5.
  28.  

Tumbuhan Obat

Followers