Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Wednesday, February 29, 2012

DISEKITAR MASALAH JAJAN


Oleh : Tarmizi, Bsc., S.Pd
 


     Jajan bagi masyarakat bangsa kita sudah  menjadi  kebiasaan,
bahkan dapat dikatakan sebagai bagian dari pola makan bangsa  In-
donesia. Selain berfungsi sebagai selingan, jajan berperan menja-
di  sarana peningkatan gizi. Misalnya yang paling efektif  adalah
bakso  dan sate, jenis makanan yang banyak digemari baik di  kota
maupun  di  desa. Secara tidak disadari pedagang bakso  dan  sate
keliling, secara tidak disadari kebutuhan gizi masyarakat  terpe-
nuhi walau takarannya baru sebagian kecil. secara tidak  langsung
para  pedagang  tadi memasyarakatkan daging sapi  kepada  seluruh
lapisan masyarakat.
     Berbagai  jenis fast-food sudah menggejala  pada  masyarakat
kota  besar.  Jenis makanan impor ini memberi  warna  baru  dalam
variasi  penduduk kota, bahkan beberapa pengusaha  makanan  dalam
resep  dalam negeri telah mencoba menunya menjadi fast-food  yang
sedap. Selain menjadi snack, aneka fast-food juga berperan menjadi
menu pokok, nilai kalori dan nilai gizinya bisa diandalkan  untuk
pemenuhan gizi sehari hari, terutama bagi masyarakat yang sibuk.
     Menurut  Dr.Gandung  Hartono dari  Direktorat  Pemberantasan
Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan dan Pemukiman  Depkes,
munculnya  kasus  kesakitan adakalanya disebabkan  memakan  jajan
tercemar.  Para konsumen kurang memperhatikan kebersihan  makanan
yang mungkin telah basi, tercemar bakteri, teroksidasi unsur kimia
serta zat organik karena adanya bahan aditif (pengawet,  pewarna,
pemanis,  pengental). Banyak penjaja makanan di sembarang  tempat
seperti  dekat  sampah,  dekat selokan,  di  pinggir  jalan  yang
berdebu atau makanan itu sendiri yang tidak ditutup.
Mengatasi kebiasaan jajan pada anak.
     Yang paling banyak diantara pejajan adalah anak-anak sekolah
dan  balita.  Untuk  mengatasi atau  mengurangi  kebiasaan  jajan
dianjurkan beberapa cara.
1. anak diajari memilih jajan yang bersih dan jenis makanan  yang
   aman.
2. anak diberi sarapan atau makan pagi dulu sebelum berangkat  ke
   sekolah,  kalau  dapat bervariasi jenisnya agar  mereka  tidak
   bosan.
3. membekali anak dengan kue-kue ke sekolah (kalau dapat).
4. Pulang sekolah mereka disuguhi buah-buahan atau yang lain.
Adanya zat yang berbahaya dalam makanan
     Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pernah  mengadakan
pengujian terhadap berbagai jenis makanan jajanan yang  dijajakan
di Sekolah beberapa SD di wilayah Jakarta Selatan. Ternyata,  ba-
nyak  makanan  jajanan  yang menggunakan  zat  pewarna  berbahaya
seperti Methanyl Yellow dan Rhodamin yang bersifat racun dan ber-
bahaya bagi pertumbuhan seseorang. Melalui pengujian pada labora-
torium PPMB Departemen Perdagangan, YLKI juga menemukan  beberapa
zat  pewarna untuk tekstil , pewarna tembok pada  beberapa  jenis
makanan seperti manisan kedondong, es campur, limun dan  beberapa
kue  warna-warni.  Pada  jenis makanan  seperti  makanan  seperti
empek-empek, pisang molen, mie ayam, pangsit dan batagor dijumpai
bahan  pengawet berupa formalin dan boraks. Depkes  melalui  BPOM
Surabaya,  Semarang, Samarinda, Banjarmasin, Palembang dan  Pekan
Baru  menyita garam bleng yang dipakai untuk  pembuatan  kerupuk,
mie,  bakso  atau otak-otak, karena ia dicampur  dengan  pengawet
boraks.  Boraks  umumnya dikenal sebagai pembersih  dan  pengawet
kayu, untuk solder atau kosmetik dengan kemurnian tinggi.  Boraks
mulai  dilaporkan  beracun sejak 1883, namun di  Indonesia  masih
dipakai sebagai pengawet pada makanan.
Keracunan melalui makanan
     Formalin   adalah  zat  yang  mengandung   alkohol   sebagai
penghiolang  bau,  antiseptik  dan  fumigan.  Di  labor  formalin
dipakai  sebagai  pengawet hewan dan di kamar mayat  rumah  sakit
sebagai pengawet mayat. Ternyata beberapa produsen mie yang tidak
mengerti  akibat penggunaan bahan terse-but untuk pembuatan  mie,
padahal injeksi 3 ons formalin dapat menyebabkan kematian dalam 3
jam. Baik melalui injeksi ataupun oral akan cepat bereaksi dengan
lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernafasan.  Secara
cepat teroksidasi menjadi asam format terutama di organ hati  dan
sel darah merah.
     Keracunan formalin dapat dilihat gejalanya, yaitu rasa sakit
disertai  muntah-muntah,  depresi susunan syaraf  atau  kegagalan
peredaran  darah, muntah darah dan lebih parah lagi dapat  menye-
babkan  kematian.   Begitupun dengan penumpukan boraks  di  dalam
tubuh, secara klinis dan patologis menyerang syaraf pusat, sistem
pencernaan ginjal, hati dan kulit. Boraks dapat terserap  melalui
selaput  lendir atau kulit terluka, beberapa jam kemudian  timbul
gejala   keracunan.  Dalam  tes  terhadap   orang-orang   dewasa,
penyuntikan  20 gram boraks mengakibatkan  muntah-muntah,  diare,
dan gangguan mental beberapa hari.
Pengendalian
     Produsen atau pedagang belum tahu bahaya pengawet,  pewarna,
dan pemanis sintetis. Dalam hal ini peranan pemerintah diperlukan
dalam  memberikan penyuluhan, terutama terhadap  pedagang  kecil.
Contohnya   pada   label  "sakarin"  tidak   dicantumkan   bahaya
penggunaan pemanis buatan ini terhadap orang normal,  seolah-olah
hanya   campuran  gula  biasa,  padahal  hanya  dianjurkan   bagi
penderita  kencing manis (diabetes), atau orang yang perlu  diet.
Departemen  Perindustriaan  hanya menargetkan  600  ton  pemanis,
namun  di  nlapangan  ada  11  pabrik  yang  memproduksinya   dan
akibatnya tiap tahun kelebihan 5.500 ton. Pedagang dan  pengelola
makanan  memenfaatkan ini menghemat biaya, walau dalam  pengujian
diketahui  sakarin (natrium sakaroida) maupun sarimanis  (natrium
siklamat) menyebabkan tumor pada kandungan kemih tikus.
     Sekarang kita tak usah terlalu cemas, dan marilah kita  sam-
but  gembira usaha dari Kanwil Kesehatan Jakarta, yang sudah  dan
akan  meningkatkan penyuluhan kepada pedagang dan produsen  tahu,
tempe dan bakso, supaya mereka memperhatikan unsur kesehatan.
     Sebenarnya mereka dapat menggunakan bahan penggantinya yang akan memberi hasil yang lebih bermutu, lezat dan aman. Penganan tahu  akan lebih tahan selama lebih dari 9 hari, jika kedelainya direndam dulu dalam air 4-7oC, atau akan tahan  6  hari jika direndam dalam benzoat 0,5%, atau akan tahan 3 hari kalau  diren-dam dalam benzoat 1.000 ppm. Sementara untuk pengganti boraks pengenyal bakso, diusulkan pemakaian potasium sorbat 0,5 hingga 3 gram tiap kg daging.

Referensi :
Majalah Panasea Juli 91,Majalah Panasea Juni 92, Majalah Rumah Tangga dan Kesehatan 89, Harian Singgalang 18 April 93, Food Chemistry Fiesher, 69, Kimia Pangan Winarno, 87

Tumbuhan Obat

Followers