Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Sunday, June 19, 2011

Pemeliharaan Laboratorium


4

Pemeliharaan Laboratorium

A. Kompetensi  Laboran/Pengelola

Masalah pemeliharaan alat biasanya sangat erat hubungannya dengan cara menyimpan alat tersebut. Awet tidaknya suatu alat juga sangat ditentukan oleh pribadi-pribadi yang menggunakan laboratorium dan alat itu.

Untuk mencegah kerusakan, pertama-tama haruslah dijaga secara ketat tata tertib kerja yang berdisiplin. Tiap siswa, sebelum praktik dalam laboratorium harus mempelajari tata tertib laboratorium dan menaatinya.
Setiap alat yang akan disimpan di dalam lemari atau rak setelah praktikum selesai harus dibersihkan terlebih dahulu. Untuk hal ini guru berkewajiban meneliti kebersihan dan kelengkapan alat-alat itu, demikian pula meja praktik siswa.
Siswa atau kelompok siswa yang melalaikan kewajiban ini hendaknya mendapat sanksi yang nyata.
Kerusakan alat sering terjadi karena kesalahan memperlakukan alat tersebut. Hal ini sering terjadi pada alat-alat ukur, listrik seperti amperemeter, voltmeter, multimeter, dan galvanometer. Karena itu, guru harus menerangkan cara kerja alat-alat tersebut sebaik-baiknya sebelum suatu percobaan dengan alat yang bersangkutan dimulai. Akan lebih baik lagi jika tiap-tiap laboratorium sudah mempunyai buku petunjuk tentang pemakaian alat-alat yang masih asing bagi siswa. Sebelum siswa menghubungkan rangkaian yang telah disusun dengan sumber tegangan listrik, sebaiknya guru terlebih dahulu memeriksa rangkaian tersebut.
Perbaikan alat-alat yang rusak hendaknya dilakukan oleh orang yang benar-benar mengerti seluk-beluk alat itu. Sebaiknya guru dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil.
Perbaikan alat yang rusak hendaknya segera dilakukan. Untuk setiap perbaikan alat hendaklah diperhitungkan dan dipertimbangkan, apakah ongkos dan lamanya waktu cukup memadai. Alat yang tidak mungkin diperbaiki lagi, dimanfaatkan saja untuk keperluan lain atau dibuang saja, sehingga laboratorium yang sangat berharga tidak menjadi tempat bertumpuknya benda-benda yang tak berguna lagi.
Sebelum suatu percobaan dilakukan oleh siswa, seharusnya guru telah mencobanya. Guru harus sudah mempersiapkan alat-alat percobaan sebelum siswa memasuki ruang praktik. Dengan demikian, segalanya dapat dilakukan dengan tenang dan tertib. Perawatan berkala terhadap alat tertentu, hendaknya betul-betul dilakukan secara tertib dan teratur untuk menghindari alat tersebut dari kerusakan. Sewajarnya, setiap laboratorium fisika memiliki satu set alat listrik, alat pertukangan kayu dan perbengkelan yang sederhana untuk menunjang usaha pemeliharaan dan perbaikan alat-alat yang ada.
Seorang laboran (pegawal khusus yang mengurusi laboratorium) biasa mendapat tanggung jawab untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan terhadap perlengkapan laboratorium. Karena itu, seorang laboran harus mempunyai pengetahuan yang luas mengenai perlengkapan laboratorium. la harus juga mengetahui dengan baik dasar PPPK dan keselamatan kerja dalam laboratorium. Karena itu, wajib mengetahui dengan baik unsur-unsur penyebab kecelakaan dan bagaimana penanggulangannya secara cepat dan tepat.
Untuk memenuhi tugas yang tidak ringan itu, seorang laboran harus menguasai hal sebagai berikut:
  1.     Dapat menggunakan alat pemadam kebakaran dengan terampil
  2.     Dapat bertindak dengan cepat dan tepat, bila terjadi:
         a.   seseorang mendapat luka bakar,
         b.   kebakaran kecil dalam laboratorium,
         c.   kebakaran besar dalam laboratorium;
  3.     Mengetahui dengan tepat letak sakelar pusat, kran gas pusat dan kran air pusat
  4.     Mengetahui dengan tepat letak, peranan ruang pembuangan dan kebersihan saluran yang menuju ke tempat tersebut
  5.     Dapat bertindak dengan cepat dan tepat bila:
         a.   terdapat bau gas yang kuat dalam laboratorium,
         b.   terdapat luapan air dalam laboratorium, aliran listrik untuk sebagian atau keseluruhan terputus.
  6.     Menentukan dengan tepat daya sekering untuk setiap alat laboratorium
  7.     Dapat menerangkan kegunaan berbagai jenis statif, stiker, dan jepitan dalam laboratorium
  8.     Mengetahui alat-alat tertentu yang perlu dibumikan
  9.     Dapat memperbaiki kerusakan ringan alat-alat listrik;
10.     Mengetahui cara yang tepat untuk memelihara papan distribusi listrik dan multiple adaptor
11.     Mengetahui cara     kerja angka sorong dan mikrometer, dan mengetahui pula tingkat ketelitian alat-alat ini
12.     Mengetahui cara menggunakan berbagai jenis timbangan dan batas daya bebannya. Dapat menentunkan dengan tepat timbangan-timbangan yang membutuhkan perbaikan
13.     Mengetahui cara menggunakan multimeter untuk mengukur tegangan arus AC dan DC, juga menentukan waktu yang tepat untuk penggantian baterai-baterainya
14.     Mengetahui cara kerja dan membersihkan mikroskop;
15.     Mengetahui cara menggunakan termostat untuk mengatur suhu
16.     Meneliti kebersihan dan siap pakai semua alat
17.     Dapat menentukan pemakaian zat pencuci yang tepat untuk alat-alat seperti pipet, buret, gelas, tabung kaca, porselin, dan plastik
18.     Mengetahui cara menyimpan dan membersihkan alat optik, dan sebagainya.

B.    Tugas dan Kewajiban Bendaharawan Perlengkapan

Berdasarkan pasal 55 dan 77 Undang-Undang Perbendaharaan Negara, Kepala Gudang/Bendaharawan Perlengkapan berkewajiban: menerima, menyimpan, dan menge-luarkan barang. Konsekuensi dari tugas-tugas tersebut kepada seorang Bendaharawan Perlengkapan dituntut suatu pertanggung-jawaban yang meyakinkan kepada atasan atau yang berwewenang.
Untuk membantu tanggung jawab Bendaharawan perlengkapan diangkat regu (tim) Penelitian/Pemeriksaan Barang yang bertugas memberikan penilaian serta pengesahan barang-barang yang dibeli sesuai dengan perencanaan pengadaan, juga pada waktu pemeriksaan barang (stock opname).
Pada pokoknya pertanggungjawaban seorang Bendaharawan Perlengkapan meliputi:
  a.     administrasi pergudangan
  b.     keamanan
  c.     penyaluran pemakaian
  d.    pemeriksaan barang.
Mengingat betapa beratnya tanggung jawab, seorang Bendaharawan Perlengkapan, ia harus memenuhi persyaratan:.
  a.     pendidikan yang cukup
  b.     pengetahuan tetang barang
  c.     serta punya kepribadian yang tinggi dan memiliki rasa tanggung jawab

1.    Administrasi Barang

Untuk bisa melakukan administrasi yang baik, di samping tenaga yang cukup berpengalaman dan mengetahui tentang pengurusan barang, diperlukan alat-alat, kertas-kertas, buku-buku, dan kartu-kartu formulir yang cukup banyak jumlahnya.
Agar para pegawai mudah melakukan tugasnya, perlu dibuat tatacara pekerjaan administrasi, antara lain pedoman tentang pembukuan atau inventarisasi barang, menggolongkan jenis barang sesuai dengan bentuk formulir yang dilampirkan, penentuan siapa yang berhak menandatangani berita acara, berapa helai berita acara, serta kelengkapan bon-bon pembelian atau faktur pengiriman barang dan faktur harga barang.

2.    Pembagian Tugas

Yang dimaksud dengan pembagian  tugas ialah penyerahan pekerjaan kepada masing-masing petugas dengan memperhati-kan jabatan dan wewenangnya.
Tugas-tugas dalam gudang yang harus diperhatikan oleh Bendaharawan Perlengkapan antara lain :
1.     Kunci gudang berada dalam tanggung jawabnya.
2.     Kunci duplikat diserahkan kepada atasannya.
3.     Masing-masing staf gudang harus berada di tempatnya pada waktu jam kerja dan ruang petugas sebaiknya di luar ruangan gudang. Dengan demikian, gudang hanya dibuka pada waktu-waktu penerimaan dan pengeluaran barang saja.
4.     Kepada para petugas sesuai dengan jabatannya diserahi tugas masing-masing, misalnya siapa yang berkewajiban dalam menangani pembukuan, penyusunan laporan, penandatanganan berita acara, penandatanganan kwitansi bon pembelian/pengiriman, penandatanganan surat-surat perintah kerja, pendistribusian, penandatanganan penghapusan barang, dan sebagainya.
Jika Bendaharawan Perlengkapan berhalangan, supaya dibuat surat pengurusan barang dengan memuat batasan tanggung-jawab pengganti atau pejabat yang ditunjuk.

3.    Pemeliharaan dalam Gudang

Yang dimaksud dengan pemeliharaan dalam gudang ialah mengatur barang-barang yang disimpan dalam gudang, sehingga terhindar dari kerusakan karena hawa penyimpanan yang tidak teratur, dan sebagainya.
Untuk mencegah hal-hal yang  tidak diinginkan, misalnya kebakaran, perlu disediakan alat pemadam kebakaran, mematikan lampu jika tidak diperlukan, jangan merokok dalam ruangan, tidak menyimpan bahan bakar dan sebagainya. Kebersihan harus dijaga, sehingga barang-barang bebas dari pengaruh debu.

C.    Pemeliharaan

   1       Umum
Secara umum, pemeliharaan alat-alat berlandaskan pada kebersihan, kering serta teraturnya tempat menyimpan alat-alat yang berukuran panjang, seperti penggaris dan pipa kaca. Bangku optik hendaknya disimpan dalam posisi mendatar agar tidak menjadi bengkok (melengkung).
Alat-alat yang terbuat dari logam seperti statif dan kaki tiga hendaknya dicat agar tidak berkarat. Sebelum dicat alat-alat ini dibersihkan lebih dahulu dengan kertas ampelas.
Membawa alat dari kaca seperti tabung kaca, pipa kaca yang berukuran panjang, sebaiknya dalam posisi tegak untuk menghindari kemungkinan pecah karena benturan.
Mencuci alat dari kaca atau plastik hendaknya dengan sabun, bila kotoran yang melekat pada alat dari kaca sukar dibersihkan, rendamlah bagian alat yang kotor itu dalam larutan 100 gram kalium bikromat dalam 100 gram asam sulfat pekat yang diencerkan dengan satu liter air. Untuk mencegah macet-nya sumbat dari kaca, hendaknya sumbat ini dipasang dalam keadaan bersih dan kering atau disisipi kertas.
   2       Perlengkapan Laboratorium
Kran air dan gas harus secara teratur diperiksa. Kran yang bocor atau macet harus segera di perbaiki atau diganti guna menjaga kelancaran praktikum. Penyekat karet atau kulit kran air yang sudah aus diganti dengan yang baru agar kran tidak bocor.
Saluran pembuangan pada bak-bak cuci haruslah selalu di jaga kebersihannya agar tidak tersumbat. Juga saluran pembuangan yang menuju septictank harus selalu dibersihkan agar kelancaran aliran air kotor tidak terganggu.
Stop kontak listrik harus diperiksa secara berkala, jangan menunggu sampai terjadi hubungan pendek, karena hal ini mungkin akan merusak alat yang dihubungkan dengan stop kontak tersebut. Jika tenaga listrik diperoleh dari generator, perlu dijaga :
·tinggi minyak mesin diesel generator cukup dan diganti pada waktunya;
·kebersihan rotor dan stator termasuk sikat-sikat karbonnya;
·putuskan dahulu hubungan generator dengan laboratorium sebelum mesin diesel generator dimatikan.
Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga mesin generator diesel dan alat-alat dalam laboratorium agar tidak rusak.
Gantilah sekring yang putus dalam laboratorium dengan yang baru dan jangan sekali-kali memperbaiki sekring yang putus dengan kawat, karena ini dapat menimbulkan kebakaran atau kerusakan pada alat listrik dalam laboratorium bila terjadi hubungan pendek.
   3       Alat Ukur
Pada dasarnya, pemeliharaan alat-alat ukur ditujukan pada pencegahan kerusakan. Tindakan pertama ditujukan pada usaha menjaga alat itu tetap bersih, sehingga mekanisme alat tetap berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya alat-alat seperti jangka sorong, mikrometer sekrup, dan timbangan.
Timbangan harus dijaga agar tidak dipakai melampaui daya beban yang telah ditentukan, agar batu timbangan tetap lengkap.
Perbaikan timbangan sebaiknya dilakukan secara berkaIa, kerusakan-kerusakan perlu diketahui sedini mungkin, agar kerusakan tidak bertambah berat atau tidak dapat diperbaiki lagi.
   4       Alat Optik
Cara menyimpan alat-alat optik sudah diuraikan dalam bab yang terdahulu secara terperinci. Meskipun demikian, sebaiknya keadaan lensa-lensa dan filter-filter hendaknya tetap diperiksa secara berkala, sehingga bila ada kotoran atau jamur dapat diketahui secepat mungkin.
Untuk membersihkan lensa hendaklah digunakan kertas lensa khusus, caranya adalah sebagai berikut:
·        Dibersihkan dahulu dengan brass blower untuk menghilangkan debu-debu yang melekat pada lensa;
·        Kemudian digosok ringan dengan kertas khusus dan menggosoknya dengan arah melingkar;
·        Kalau digunakan cairan pembersih lensa (lensa cleaner fluid) janganlah digunakan berlebihan.
Untuk membersihkan jamur yang terdapat pada susunan lensa komponen bagian dalam, sebaiknya diserahkan kepada seorang ahli.
Slide, film strip, dan film di bagian gambarnya tidak boleh dipegang, karena sidik jari tangan akan berbekas. Untuk menghindari alat-alat optik dari jamur, sebaiknya lemari atau rak tempat menyimpan alat-alat optik dilengkapi dengan lampu penerangan secukupnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari udara lembab dalam lemari tersebut.
   5       Alat Listrik
Bila sumber tenaga listrik dalam laboratorium mempunyai tegangan dua macam, 110 volt dan 220 volt, sebaiknya stop kontak masing-masing tegangan diberi tanda atau kode atau digunakan stop kontak yang berlainan warna atau bentuk. Tanda atau kode ini harus diketahui oleh semua pemakai laboratorium untuk mencegah salah sambung yang bisa mengakibatkan kerusakan alat-alat.
Sebaiknya rangkaian listrik laboratorium dipasang sebuah stabilisator tegangan listrik dengan kapasitas yang memadai untuk melindungi alat-alat listrik yang peka terhadap perubahan tegangan listrik. Biasanya, menekan tombol ke posisi off dan putuskan hubungan dengan jaringan arus listrik untuk alat-alat yang selesai dipakai.
Klem-klem penghubung pada alat-alat listrik hendaknya selalu dijaga kebersihannya untuk menjamin kelancaran kerja alat-alat yang bersangkutan. Baterai-baterai multimeter haruslah diganti secara berkala tepat pada waktunya untuk menjamin ketepatan ukur dan mencegah kerusakan multimeter. Kerusakan multimeter yang paling umum disebabkan siswa yang menghubungkan multimete ke rangkaian AC tanpa mengikuti petunjuk yang semestinya. Dalam hal ini bagian belakang multimeter harus dibuka dan komponen yang rusak diganti dengan komponen baru yang sesuai.
Jika terdapat kerusakan alat listrik yang lebih rumit, janganlah segera membongkarnya, tetapi periksalah dahulu sekringnya karena alat-alat ini memiliki sekring pengaman. Bila ternyata sekring putus, segera ganti sekring tersebut dengan sekring yang baru dan sesuai. Jika bukan sekringnya yang putus, sebaiknya perbaikan diserahkan kepada orang yang mengetahui seluk-beluk alat listrik yang rusak.
Percobaan dengan tabung-tabung Geissler memerlukan kecermatan guru dalam bertindak, sebab, percobaan ini memerlukan aliran listrik tegangan tinggi. Siswa yang berada terlalu dekat dengan kabel tegangan tinggi mungkin mendapat kejutan listrik. Sebaiknya, jangan digunakan aliran listrik dengan tegangan lebih besar dari 5 kv, sebab dapat menimbulkan sinar X dari tabung-tabung tersebut, yang sangat berbahaya bagi keselamatan kita.
   6       Alat Magnet
Magnet batang sebaiknya disimpan berpasangan, sejajar dengan kutub-kutub berlawanan dan ditutup dengan batang besi lunak pada kutub-kutubnya. Kutub-kutub magnet berbentuk U harus pula disimpan dengan menghubungkan kutub-kutubnya memakai besi lunak. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kekuatan kutub-kutub magnet tersebut.

D.   Disiplin di laboratorium

Tugas yang mungkin paling sukar dan banyak memerlukan waktu serta tenaga ialah tugas orang yang mengelola organisasi laboratorium. Termasuk dalam tugas ini di antaranya ialah mengatur dan memelihara alat dan bahan, mengadakan dan membeli alat serta bahan, menjaga disiplin laboratorium dan keselamatan laboratorium.
Seorang guru IPA diharapkan tidak hanya tahu bagaimana mengajarkan IPA sesuai dengan bidangnya, tetapi juga harus tahu bagaimana mengurus alat dan bahan pelajaran IPA. Lebih-lebih jika guru yang bersangkutan diserahi tugas mengelola laboratorium, ia tidak hanya harus tahu bagaimana mengorganisasi laboratorium tetapi juga semua pekerjaan dan keamanan laboratorium dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pengelola laboratorium tidak hanya berhadapan dengan guru-guru lain yang mempergunakan laboratorium yang menjadi tanggung jawabnya, ia juga berhadapan dengan kepala sekolah tempat ia mempertanggungjawabkan tugasnya.
Kepala sekolah sebagai penanggung jawab sekolah secara keseluruhan, baik administrasi pendidikan maupun teknis pendidikan, memerlukan beberapa orang pembantu untuk melaksanakan tugasnya. Pembantu-pembantu ini di antaranya ialah wakil kepala sekolah. Di samping kepala sekolah dan wakil kepala sekolah biasanya terdapat juga koordinator mata pelajaran, misalnya koordinator mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa dan lain-lain. Setiap koordinator ini bertanggung jawab atas kemajuan dan kelancaran pelajaran yang dikoordinasikannya.
Khusus bagi koordinator mata pelajaran IPA, biasanya dibagi lagi atas subkoordinator fisika, biologi, kimia, dan IPBA. Masing-masing subkoordinator tadi bertanggung jawab pada mata pelajaran yang dikoordinasikannya, termasuk pengelolaan laboratorium. Koordinator mengadakan pertemuan dengan guru-guru yang dikoordinasikannya untuk menentukan langkah-langkah serta peraturan dalam rangka melaksanakan tugas pengajaran. Dalam pertemuan ini bisa diatur hari-hari beserta jam pemakaian laboratorium, supaya laboratorium dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Di  samping peraturan-peraturan yang ada harus dipatuhi, juga kerja sama antara pengeIola laboratorium dan pemakai laboratorium (guru dan siswa) harus baik, demi kelancaran tugas masing-masing.
Administrasi alat dan bahan juga termasuk tugas pengelola laboratorium. Penanganan administrasi alat dan bahan ini dilakukan dengan sistem tertentu.  Hasil dari administrasi alat dan bahan ini akhirnya menjadi bahan untuk membuat laporan bulanan, semesteran atau bahkan laporan tahunan. Dari hasil laporan ini dibuatlah perencanaan tahun berikutnya tentang jenis alat dan bahan yang akan dibeli untuk mengganti yang habis atau rusak.
Administrasi alat dan bahan ini, jika dikerjakan dengan baik akan menolong kepala sekolah dalam memberikan laporan periodik kepada atasan langsung tentang alat-alat dan bahan inventaris yang menjadi wewenangnya.
Tugas yang tidak kalah “pentingnya” dan mungkin tugas yang paling memakan pikiran dan tenaga dalam mengelola laboratorium ialah menjaga keamanan dan keselamatan laboratorium, termasuk isi  dan penggunaannya. Perlu ditekankan di sini bahwa laboratorium, jika tidak tertib dan hati-hati cara memakainya, maka akan menjadi sumber marabahaya karena alat dan bahan yang ada dalam laboratorium itu ada yang dapat menimbulkan bahaya, bahkan ada yang bisa menimbulkan kematian. Di samping itu, banyak di antara alat-alat itu yang mahal harganya sehingga kemungkinan besar alat-alat itu menjadi incaran orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, akibatnya merugikan sekolah sendiri. Oleh karena itu, masalah penjagaan keamanan dan keselamatan laboratorium hendaklah sepenuhnya diperhatikan oleh pengelola laboratorium. Pengelola laboratorium adalah orang pertama yang mendapat pertanyaan jika terjadi sesuatu dalam laboratorium yang dikelolanya.
Tugas pengelola laboratorium cukup berat, sebaiknya ia dibantu oleh seorang laboran tertentu dari pegawai. Sebagai pembantu pengelola laboratorium, maka laboran harus juga mengetahui tentang hal-hal yang berhubungan dengan penge-lolaan laboratorium. Alangkah tepatnya jika tenaga yang ada merupakan tamatan SMA jurusan pasti alam (IPA) karena alat-alat yang ada dalam laboratorium tidak merupakan hal baru baginya. Juga laboran tersebut kalau perlu menjadi pembantu guru dalam membimbing siswa-siswa dalam melakukan praktik.
Untuk menjaga keamanan dan keselamatan laboratorium hendaknya disiplin di dalam laboratorium selalu mendapat perhatian penuh. Disiplin di dalam laboratorium hendaknya lebih diketatkan daripada disiplin di dalam kelas. Karena, sekali disiplin dilanggar, maka akan sukar melanjutkan langkah-langkah berikutnya dalam usaha menjaga keamanan dan keselamatan. Memang kebebasan merupakan kunci dari pendidikan modern, tetapi kebebasan tidak berarti tanpa disiplin, terutama bagi mereka yang bekerja di dalam laboratorium.
Perlu ditekankan para siswa bahwa disiplin bukan untuk kepentingan guru sendiri supaya ia mendapat pujian dari kepala sekolah, tetapi untuk kepentingan siswa, agar ia dalam bekerja tidak mendapat bahaya dan menimbulkan bahaya bagi pemakaian laboratotium lainnya.
Kelas harus di bawah kontrol guru dan guru hendaknya merupakan penguasa tunggal dalam laboratorium. BiasakanIah siswa melakukan disiplin yang baik. Jika ada siswa yang melanggar peraturan harus segera dihukum tanpa menundanya. Agar disiplin dapat terlaksana dengan baik, hendaknya mereka diberikan lembaran tata tertib dalam taboratorium. Tata tertib ini diberikan kepada siswa untuk dipelajari sebelum mereka masuk ke dalam laboratorium. Satu lembar dari tata tertib ini dipasang di dalam ruang laboratorium pada tempat yang mudah dilihat atau pada papan pengumuman jika ada.
Isi tata tertib dalam laboratorium di antaranya: larangan, suruhan, dan petunjuk. Umpamanya, larangan merokok dalam laboratorium, suruhan menjaga kebersihan, dan petunjuk bagaimana cara mencegah bahaya atau kerusakan yang mungkin dapat timbul dari percobaan yang sedang dilakukan.
Dalam tata tertib itu jangan terlalu banyak memberikan larangan. Lebih baik memberi tahu siswa secara pasti apa yang harus dilakukan. Dengan tata tertib itu jangan lalu memberikan kesan bahwa laboratorium merupakan suatu tempat yang banyak menimbulkan bahaya. Kesan yang demikian akan mengganggu konsentrasi siswa dalam bekerja. Akan tetapi janganlah dengan tata tertib itu menimbulkan anggapan pada siswa bahwa laboratorium merupakan tempat untuk melakukan avonturir atau petualangan.
Walaupun disiplin dalam laboratorium harus ditegakkan, tetapi janganlah menjadi kaku. Disiplin yang baik adalah masing-masing siswa bekerja dengan bebas tetapi penuh tanggung jawab.
Berbicara di dalam laboratorium diperbolehkan dalam batas-batas tertentu, tetapi sebaiknya siswa tidak berbicara keras-keras, apalagi berteriak atau tertawa terbahak-bahak. Berbicara waktu praktik karena diskusi kecil dalam kelompok/regu merupakan suatu hal yang baik, asal diskusi tersebut tidak mengganggu kelompok yang lainnya.
Hasil-hasil percobaan yang didapat dengan cara bekerja sendiri pada kelompoknya mempunyai arti pendidikan yang lebih baik daripada kalau mereka bekerja saling meniru. Kesalahan dalam melakukan percobaan merupakan pendidikan berharga, dan diharapkan mereka tidak akan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Contoh tata tertib dalam laboratorium sebagai berikut :
  1.     Siswa tidak diperkenankan masuk ke dalam laboratorium sebelum minta izin kepada guru yang bertugas.
  2.     Alat-alat dan bahan yang ada dalam taboratorium tidak diperkenankan dibawa keluar tanpa seizin guru.
  3.     Siswa diwajibkan menempati tempat yang telah ditentukan oleh guru dan menjaga ketenangan serta ketertiban di dalam laboratorium selama praktikum.
  4.     Alat dan bahan harus digunakan sesuai dengan petunjuk praktikum yang diberikan. Dalam melakukan percobaan, siswa harus mengikuti petunjuk yang diberikan dan tidak bekerja menurut kehendak sendiri.
  5.     Jika ada alat-alat yang rusak atau pecah hendaknya siswa segera melaporkan kepada guru.
  6.     Jika terjadi kecelakaan, walaupun sekecil apa pun seperti kena kaca, terbakar atau ada bahan kimia tertelan, hendak-nya siswa segera melaporkan kepada guru.
  7.     Setelah selesai melakukan praktikum siswa harus mengembalikan alat-alat ke tempat semula dalam keadaan bersih.
  8.     Jagalah kebersihan laboratarium dan buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan, jangan pada bak cuci.
  9.     Sebelum meninggalkan laboratorium, meja praktikum harus dalam keadaan bersih, kran air dan gas telah ditutup dan hubungan listrik telah diputuskan.
10.     Kerusakan atau kehilangan alat atau bahan yang terjadi karena kelalaian siswa, harus diganti oleh kelompok siswa yang bersangkutan.
11.     Siswa yang tidak mengindahkan tata tertib laboratorium atau tidak menaati petunjuk guru pembimbing, dikeluarkan dari laboratorium.
Bagi siswa yang melakukan pelanggaran atau tidak menaati tata tertib, harus dilakukan tindakan. Pertama peringatan biasa, kedua, peringatan bernada keras, ketiga, dilarang untuk mengikuti praktikum dalam jumlah tertentu, keempat, dilarang masuk sekolah beberapa hari, dan terakhir, dikeluarkan dari sekolah.
Hukuman pertama dan kedua dapat dilakukan oleh guru petugas laboratorium, sedangkan hukuman untuk tingkat selanjutnya hendaknya diberikan oleh kepala sekolah atau pejabat yang berwenang.
Selain ada tata tertib yang ditujukan kepada siswa, hendaknya juga ada peraturan atau tata tertib untuk guru. Kedua jenis tata tertib tersebut dibuat oleh koordinator pengelota laboratorium bersama-sama dengan guru yang lain. Dengan demikian, tidak ada di antara guru itu merasa diberi oleh guru lain untuk melaksanakan tata tertib itu, karena tata tertib itu dibuat oleh guru sendiri dan untuk dirinya sendiri.
Tata tertib dalam laboratorium untuk guru antara lain sebagai berikut :
  1.     Jika siswa biasanya diharuskan datang 10 menit sebelum praktikum, maka guru harus datang 30 menit sebelum praktikum dimulai.
  2.     Jika siswa sedang bekerja di dalam laboratonum harus dalam pengawasan guru          
  3.     Guru harus dapat menguasai dengan penuh disiplin siswa-siswanya yang ada dalam laboratorium.
  4.     Guru harus tahu dan yakin bahwa siswa mengerti tata tertib laboratorium dan menjalankan tata tertib itu dengan baik.
  5.     Kebersihan laboratorium harus selalu dijaga. Alat-alat yang telah dipakai harus dikembalikan ke tempat semula. Hen-daknya guru meninggalkan laboratorium dalam keadaan bersih dan rapi.
  6.     Bahan-bahan dan alat yang akan digunakan untuk praktikum siswa hendaknya disediakan sebelum praktikum dimulai dan siap digunakan
  7.     Guru harus selalu memberikan petunjuk kepada siswa dalam menggunakan alat atau bahan yang agak asing baginya; disamping itu guru harus selalu memperingatkan siswa bahwa bahaya dapat terjadi dalam praktikum yang sedang dilakukan.
  8.     Sebelum praktik mulai, sebaiknya siswa diberi peringatan tentang  hal-hal yang perlu mendapat perhatian. Misalnya, jika dalam suatu percobaan digunakan bahan yang mudah terbakar atau mudah meledak, maka siswa harus diberi peringatan untuk berhati-hati.
  9.     Bahan yang digunakan untuk memadamkan kebakaran harus siap dan tersedia dalam  laboratorium dan mudah untuk dicapai.
10.     Kotak PPK hendaknya seIalu tersedia dengan isi yang lengkap dan terawat dengan baik. Setiap guru harus tahu bagaimana cara menggunakan isi kotak PPK itu.
Tiap kelompok kerja siswa biasanya terdiri dari 3 atau 4 siswa. Bekerja secara berkelompok ini memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
a.     pekerjaan dilakukan lebih cepat,
b.     para anggota kelompok dapat saling membantu,
c.     terutama bagi siswa yang pandai dapat menolong anggota kelompoknya yang kurang pandai.
Harus dicegah jangan sampai praktikum kelompok hanya dikerjakan oleh seorang siswa, sedangkan yang lain hanya menyaksikan atau berpangku tangan saja. Sebaiknya diusahakan semua siswa aktif sesuai dengan petunjuk praktikum.
Dengan bekerja secara kelompok dapat menghemat jumlah alat dan bahan yang digunakan.
Jika guru menyampaikan sesuatu, siswa harus tenang mendengarkan. Namun, sebaiknya jangan terlalu sering minta perhatian kepada siswa yang sedang bekerja, karena dapat mengganggu kelancaran praktikum, kecuali ditemukan kesalahan umum dalam melakukan praktikum yang perlu segera dibetulkan. Pada waktu praktikum sedang berlangsung, guru harus selalu waspada, mungkin ada yang berbuat kesalahan. Juga guru harus selalu bermata jeli, karena mungkin ada siswa yang menggunakan kesempatan untuk bermain-main di luar perhatian guru.
Selain disiplin, pengalaman dan pengetahuan guru terhadap percobaan-percobaan yang dilakukan dalam laboratorium yang sangat penting. Dengan pengalaman dan pengetahuan itu guru bisa mengetahui:
F      kesulitan-kesulitan yang terdapat pada setiap percobaan,
F      bahaya yang mungkin terjadi pada setiap percobaan,
F      ketelitian yang dapat dicapai dalam suatu percobaan.
Dengan mengetahui hal-hal tersebut di atas, guru dapat meminta perhatian khusus kepada kelompok yang mengerjakan percobaan-percobaan tersebut.
Setiap guru yang menggunakan laboratorium hendaknya diberi jadwal waktu pemakaian laboratorium.  Masing-masing guru harus menggunakan jadwal waktu itu sebaik-baiknya dan tidak menggunakan hak pakai dari kelas lain. Hal ini akan mengganggu kelancaran pelajaran seluruh sekolah, kecuali kalau sebelumnya telah memberitahukan kepada guru atau kelas yang bersangkutan.
Dalam pengaturan giliran pakai dapat dipertimbangkan bahwa kelas-kelas tertinggi diberi kesempatan memakai lebih banyak daripada kelas-kelas dibawahnya.Sebagai contoh, kelas III diberi waktu 4 jam seminggu, kelas II diberi waktu 2 jam seminggu, sedangkan kelas I diberi waktu hanya 1 jam seminggu atau 2 jam untuk dua minggu sekali.
Agar kelancaran penggunaan laboratorium dapat dijaga dengan baik, sebaiknya masing-masing kelas menggunakan waktu sesuai dengan yang telah dijadwalkan, dan meninggalkan laboratorium dalam keadaan bersih. Dengan demikian, siswa kelas berikutnya yang akan menggunakan laboratorium tidak direpotkan oleh sisa-sisa kotoran yang ditinggalkan oleh siswa kelas sebelumnya.
Berdasarkan jadwal yang telah ditentukan, masing-masing kelas akan mempersiapkan diri, menunggu gilirannya. Karena itu, agar kelas berikutnya tidak lama menunggu giliran, praktikum hendaknya selesai kira-kira 5 menit sebelum waktunya habis. Sisa waktu ini digunakan oleh guru untuk memeriksa, semua alat dan bahan sudah dikembalikan pada tempatnya semula, atau apakah meja siswa sudah dibersihkan.
Pemakaian laboratorium hendaknya seefisien mungkin, artinya jangan banyak waktu praktik di labotatorium kosong, tetapi hendaklah penuh digunakan. Sebaliknya jika semua waktu terpakai untuk praktik, maka tidak ada waktu untuk mengontrol dan memperbaiki alat-alat yang kurang bekerja sebagaimana mestinya.

D.   Administrasi Laboratorium

Tujuan mengadakan administrasi alat dan bahan ialah agar dengan mudah dapat diketahui :
1.     jenis, bahan atau alat yang dimiliki,
2.     jumlah masing-masing alat dan bahan,
3.     jumlah, pembelian atau tambahan,
4.     jumlah yang pecah, hilang atau habis.
Untuk keperluan administrasi ini diperlukan beberapa buku catatan di antaranya:
1.     buku stok;
2.    kumpulan daftar pembelian dan penerimaan;
3.    catatan barang-barang yang pecah, rusak, hilang dan habis;
4.    buku harian.
Di samping buku catatan tersebut di atas masih diperlukan buku catatan lain yang dapat membantu mempermudah mengatur adminis-trasi alat dan bahan.
Buku catatan itu ialah:
  a.     catatan percobaan yang akan dilakukan,
  b.     catatan beberapa konstanta,
  c.     cara membuat beberapa larutan,
  d.    catatan pinjaman alat,
  e.     catatan pribadi.
Buku-buku yang disebutkan di atas, jika diisi sebaik-baiknya akan memberi pertolongan besar dalam pembelian alat dan bahan. Misalnya untuk persiapan tahun ajaran baru, beberapa alat atau bahan harus dibeli, baik pembelian itu atas usul guru-guru IPA atau Fisika, ataupun atas permintaan kepala sekolah.
Bersumber dari catatan-catatan tersebut dengan mudah dapat diketahui alat atau bahan apa yang perlu di pesan, juga akan mudah dapat ditentukan alat atau bahan apa yang perlu dipesan lebih dahulu mengingat dana yang terbatas. Jika barang-barang yang dipesan itu sudah datang, diperiksa dan dicocokkan dengan daftar pesanan dan segera dimasukkan ke dalam buku stok, sebelum alat atau bahan itu dipakai.

Tumbuhan Obat

Followers