Search This Blog

Loading...

Automatic translation of this blog page

Tuesday, October 19, 2010

TUMBUHAN OBAT SUMATERA

TUMBUHAN OBAT SUMATERA
oleh Tarmizi, B.Sc, S.Pd


Membicarakan mengenai tumbuhan, tentu kita telah membayangkan bahwa tumbuhan itu terdiri dari akar, batang, cabang dan ranting (jika ada), daun serta bunga atau buah. Sedang obat adalah bahan atau zat yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan takaran tertentu untuk mengubah suatu proses biologis atau kimiawi.
Sumatera merupakan satu dari beberapa pulau terbesar dunia yang kaya dengan berbagai barang galian, seperti minyak, gas bumi dan batu bara berperan penting dalam perekonomian bangsa Indonesia, sedangkan flora dan faunanya dengan keragaman dan keunikan yang khas juga merupakan aset yang tak ternilai harganya.
Secara geografis, Sumatera di khatulistiwa dengan iklim tropika, dimana hanya ditemukan musim hujan dan kemarau. Keadaan ini merupakan habitat yang ideal bagi beragam jenis flora dan fauna tropika.
Kekayaan Hutan tropis dan sumber daya alam

Menurut Prof. Dr. Sjamsul Arifin Ahmad, Guru besar jurusan kimia ITB, di muka bumi terdapat 5 hingga 30 juta spesies kehidupan, jumlah yang pasti belum diketahui. Satu setengah juta spesies telah dikenal, 54% terdapat di hutan tropis, di "tujuh negara mega-diversity" termasuk Indonesia. Banyak spesies yang terdapat di hutan tropis tidak ditemukan di belahan bumi manapun. Pada satu hektar hutan Kalimantan ditemukan 700 spesies pohon. Keaneka ragaman spesies dapat timbul karena rintangan geografis; air, pegunungan dan sebagianya. Karenanya pulau-pulau menampung spesies lokal yang khas.
Sejak awal "civilization" tanaman telah dimanfaatkan sebagai sumber pangan, sandang, energi, dan sumber bahan kimia untuk obat-obatan, insektisida, wangi-wangian, zat warna dan keperluan lain. Dua puluh lima persen dari seluruh obat yang diperdagangkan berasal dari tanaman tersebut adalah tanaman tropis. Banyak spesies tanaman hutan tropis belum dimanfaatkan. 1400 spesies ta-naman hutan tropis mungkin berguna untuk penyembuhan penyakit kanker.
Meijer (1982) mengemukakan bahwa sumatera sangat kaya dengan jenis tetumbuhan yang banyak ditemukan di hutan, lebih kaya dari flora Jawa dan Sulawesi dan berimbang dengan flora Kalimantan dan Irian. Para ahli sepakat bahwa hutan tropis merupakan gudang senyawa organik terbesar di dunia.
Pengetahuan tentang penggunaan tumbuhan, khususnya sebagai racun dan obat hanya diajarkan pada keluarga dekat atau orang yang cukup dipercaya dan tidak diajarkan sembarangan pada orang lain, karena pengetahuan ini dianggap mempunyai nilai strategis.
Biasanya sipemilik pengetahuan ini dalam masyarakat dikenal dengan dukun atau pawang dan mempunyai kedudukan yang cukup dihormati.
Prof. Dr. Dayar Arbain, Dosen senior jurusan Farmasi UNAND padang, telah mulai menginventaris tumbuhan dan survey fitokimia sejak 1982. ia mengakui bahwa memang tidak mudah untuk menarik korelasi kandungan metabolit sekunder tumbuhan yang bisa dideteksi dengan penggunaan tradisional. Kesulitan ini ditambah lagi dengan kebia-san pengobatan tradisional dalam bentuk "ramuan" yang terdiri dari bermacam bagian dan jenis tumbuhan dan juga tidak jarang ramuan ini disertai dengan bahan yang bewrasal dri hewan dan mineral.
Berdasarkan hasil uji kandungan metabolit sekunder dan penggunaan tradisional dari 1125 jenis tumbuhan koleksinya, Prof. Dr. Dayar Arbain memilih beberapa jenis untuk dipelajari kandungan kimianya. Puluhan hasil penelitiannya telah dipublikasikan di luar negeri, terutama lewat "Aust. J. Chem." di australia dan pada beberapa jurnal lainnya.
Beberapa tumbuhan obat yang sudah teruji
Margarita indica yang di sijunjung dikenal dengan Silalak Kulik, digunakan sebagai ramuan KB ditemukan mengandung kelompok alkaloida yang cukup terkenal dengan aktivitas biologisnya "alka-loida securinega", seperti sekurinina, allosekurinina, fillantina, sekuritinina dan beberapa alkaloida baru 15-L-metoksidihidrofil-lokrisinina, margaritarina dan urinol A. Allosekurinina ditemukan aktif menimbulkan kontraksi uterus pada tikus percobaan.
Sapium baccatum yang di Baso-Bukittinggi digunakan sebagai ramuan obat "bengek" ditemukan mengandung alkaloida baru yang diberi nama bukittingina. Senyawa ini beraktivitas analgetika dan kontraksi otot polos. Antidesma montana yang dikenal dengan nama daerah Bonai ditemukan mengandung peptida DA 240-1 dan DA 240-2. Antidesma tetrandra yang di Sungai Dareh dikenal dengan Bonai Tanduk mengandung peptida baru DA 599-1 dan DA 599-2. Kedua jenis bonai ini secara tradisional digunakan sebagai "obat panas". (Tarmizi, Panasea Maret 1993).
Famili Rubiaceae yang cukup terkenal seperti kina, kopi, ipeka dan yang lain., ternyata cukup banyak jenisnya di Sumatera serta masih belum diteliti kandungan kimia dan aktivitas biologisnya. Cephaelis stipulaceae yang di Gunung Sago dikenal dengan kopi-kopi dan digunakan sebagai ramuan obat batuk mengandung gramina dengan kadar tinggi. Lerchea bracleata di Anai digunakan sebagai ramuan obat kulit, mengandung alkoloida baru lerkieina yang terbukti aktif menghambat pertumbuhan bakteri sta-pilococcus aureus. Uncaria glabrata di Panti sebagai obat keracunan, mengandung alkaloida glikosida baru glabratina yang dari pemeriksaan pendahuluan aktivitas farmakologisnya memperli-hatkan efek nyata depresi susunan syaraf pusat dan alkaloida lain yang telah dikenal unkarina dan mitrafillina. Salah satu genus famili Rubaceae yang menarik perhatian khusus adalah ophiorrhiza, dimana salah satu dari jenis ini, O. mungos yang merupakan obat tradisional India terbukti aktif terhadap virus dan tumor karena danya alkakoida kamtotesina dan 10-metoksikamptotesina. Di Anai ditemukan O. discolor yang ternyata mengandung tetrahidroalstoni-na beraktivitas menimbulkan dilatasi pada pembuluh darah otak. O. major yang ditemukan mengandung alkaloida baru tipe sinkonamina yang disebut ofiorrizina.
Berikut ini dapat dilihat spesies, nama daerah dan tempat ditemukan, kandungan kimia serta kegunaan atau khasiat tumbuhan obat Sumatra yang telah diuji, diantaranya: O.cf.ferruginea mengandung dihidrosikloakogerina, mostuerina, isomelindina. O. filistipula di Lintau mengandung normalindina, 7-metoksikamtote-sina, asam striktosidinat. Ophoriza x (belum diidentifikasi),di Gunung Tandikat mengandung tetrahidroalstonina. Picrasma javanica kayu paik di Bukittinggi mengandung dehidrokrenatina, krenatina, 8-hidroksidehidrokrenatina, 8-hidroksikrenatina, kuassinoida DA 230-Q1 dan DA 230-Q2 untuk obat penyakit kulit dan obat kuat. Pellacalyx axillaris sikek-sikek di Ulu Gadut mengandung sinna-moylnortropana. Rauwolfia sumatrana kayu goti di Pasaman mengandung 12-hidroksi akuamilan-12-karboksilat, daunnya untuk obat demam. Chilocarpus denudatus mengandung desasetil pikralina, razinilam. Voacanga foetida mengandung vobtusina, vobtusina lakton, voakagina. Phoebe lanceolata famili lauraceae mengandung nordisentrina, disentrinona. Litsea elliptica di Payakumbuh mengandung retikulina, 10-undekene-2-on, tridekena-2-on pengusir kutu busuk. catinodaphne sesquipelaris mengandung aktino dafnina. catinodaphne glomerata mengandung aktino dafnina dan listirenina. catinodaphne golara mengandung lastourvillina, flavinatina. Ardisia sumatrana mengandung pallidina, armepavina. Spilanthes ocimifolia mengandung spilantol untuk pengusir serangga perusak pakaian dan buku. Evodia cf. trichotama mengandung magnokuranina.
Tindak lanjut
Bisnis obat yang berasal dari tumbuhan ini sangat besar, mencapai US$ 57 miliyar per tahun (Lewis, 1991), sedangkan keuntungan yang mengalir kembali pada negara asal tumbuhan terse-but hampir tidak ada. Juga tidak jarang yang "mencuri" dengan cara membayar penduduk yang awam untuk mengumpulkan jenis-jenis tumbuhan tertentu dan kemudian diselundupkan ke negara mereka untuk dipelajari.
Semoga saja tumbuhan Sumatera ini khususnya yang berpotensi sebagai obat akan dapat diteliti, dipelajari dan dikembangkan, baik untuk transfer sains dan teknologi maupun ekonomi dan industri, sehingga terlihat nyata bahwa hutan tropis dan biota Sumatera ini memang milik orang Sumatera pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umunya. (Tarmizi, B.Sc, S.Pd/ Universitas Negeri Padang)
Referensi: 1) Dayar Arbain, Satu Dekade Penelitian Kimia Tumbuhan Obat Sumatera Makalah, 1992 Jurusan Farmasi UNAND. 2) D. Lewis, West Australian, May, 24, 1991. 3) Sjamsul Arifin Ahmad, Ilmu Kimia Sebagai Ujung Tombak Dalam Pemanfaatan Hutan Tropis Secara Aman dan Berkelanjutan Makalah, 1992, Jurusan Kimia ITB. 4) Van Steenis, C.G.G.J., Flora Malesiana, vol. I, cxlv, (P. Noordhoff Ltd. Hearlem, 1950). 5) W.Meijer, Indonesia Circle, 1982, 25

Tumbuhan Obat

Followers