Automatic translation of this blog page

Monday, February 1, 2010

PENYEMBUHAN IMSOMNIA

Oleh Tarmizi, B.Sc, S.Pd

            Setiap orang memerlukan tidur, karena pada saat tidur terjadi mekanisme penyesuaian dan pemulihan serta periode Istirahat yang berfungsi membentuk energi. Kebutuhan tidur tiap orang berbeda. Pada usia menengah, kebutuhan tidur yang normal 6-7,5 jam perhari. Ada sebagian orang yang susah tidur dan jam tidurnya lebih pendek. Keadaan yang demikian disebut Imsomnia atau gangguan tidur.
Insomnia adalah gejala[2] kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun.
Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.[3] Dalam terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.
Potensi komplikasi pada Insomania.[1]

Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut.
            Insomnia secara umum digolongkan atas 3 macam yaitu Transient Imsomnia, Short term Insomnia, Long term Insomnia. Beberapa gejala yang mewarnai Insomnia adalah kesulitan dalam memasuki tidur, sering terbangun ketika malam dan bangun terlalu pagi. Gejala kedua dan ketiga hampir selalu terjadi bersama-sama dan dikaitkan dengan kemungkinan penyebab yang sama serta umumnya terjadi pada orang yang lebih tua, sedangkan kesulitan dalam memasuki tidur umumnya tedapat pada anak muda.
            Bentuk insomnia dapat bervarlasi, mulai darl tidur yang tidak tenang, sampai kurang tidur dan sama sekali tak dapat tidur pulas. Hal ini mempengaruhi prduktivitas kerja, kreativitas, kesehatan, bahkan perkawinan dan kehidupan bekeluarga.
            Menurut dr. W.M Roan, Bagian Psikiatri -RS Ongko Mulyo, beberapa gangguan agak berat, biasanya mengganggu tidur. Lebih-lebih gangguan, mental seperti kecemasan, depresi, atau gangguan jiwa berat seperti psikosis dan skizofenia akan memberikan gejala pertama berupa insomnia.
            Untuk gangguan depresi, insomnia timbul saat pagi hari (dini hari). Penderita akan terbangun sekitar pukul 2‑3 dan sulit terlelap lagi. Bahaya depresi yang lebih dalam dapat menimbulkan perasaan penderita seperti terpencil, yang tak jarang sampai ingin bunuh diri.
            Untuk gangguan cemas, insomnia itu timbul saat mau tidur. Penderita biasanya akan gelisah dan tidak dapat cepat terlelap. Padahal normalnya dalam waktu paling lama 30 menit telah tertidur.
            Pada gangguan jiwa berat seperti psikosis dan skizofenia, penderita biasanya terbangun pada tengah malam antara pukul 12‑01 dan tidak dapat tertidur lagi menjelang pagi. Ada kalanya sama sekali gelisah dan bermalammalam tak dapat tidur.
            Dalam mengatasi gangguan insomnia perlu dilakukan evaluasi medis psiklatri terlebih dahulu, baru dapat ditentukan terapinya yang tepat. Namun ada juga ada hal yang menggembirakan, bahwa hampir semua jenis insomnia dapat diatasi.
Penyebab Imsomnia.
            Insomnia sering kali disebabkan oleh faktor kejiwaan atau emosional, seperti kecemasan, kesusahan, atau kegembiraan yang berlebihan. Penyebab lain yang sering juga ditemui iaiah terlalu banyak berfikir, stress akibat beban pekerjaan, beberapa masalah pribadi, dan bisa juga karena ketidaknyamanan lingkungan.
            Mimpi merupakan bagian normal dari tidur. Mimpi yang biasa tidak akan teringat lagi setelah bangun. Tetapi mim buruk, mimpi yang menakutkan, dan mimpi yang sangat mengesankan akan sering teringat. Mimpi tersebut dapat Juga berupa akibat perbuatan kita di masa lampau, atau ambisi yang berlebihan. Karena itu perlu diselidiki penyebab mimpi yang menyebabkan penderita lemas dan mengantuk setelah bangun esoknya.
Gangguan sulit tidur dapat disebabkan oleh stres, perubahan pola hidup, lingkungan yang ramai, penyakit, terlalu lelah, urat saraf lemah, pertambahan usia, dan lain‑lain.
Untuk menghindari sulit tidur, harus dilakukan hal‑hal sebagai berikut: biasakan tidur pada jam yang ditentukan secara rutin (mulai tidur pada waktu yang sama setiap hari), usahakan tidur di tempat tidur yang nyaman, hindari stres, dan sebagainya.
Jika seseorang sudah merasakan gejala sulit tidur (insomnia), hendaknya diperhatikan indikasi-indikasi yang lain untuk mengetahui pokok penyakit yang sebenarnya, karena sering kali sulit tidur ini merupakan tanda adanya suatu penyakit.
Obat tradisional
            Sejak zaman dahulu masyarakat telah menggunakan cara dan obat tradisional untuk mengatasi imsomnia. Rakyat Amerika memakan sepiring bawang merah bakar untuk mengatasi imsomnia. Sedangkan di Indonesia beberapa tanaman dapat dimanfaatkan untuk mengatasinya, antara lain :
·        Daun kankung, dapat dimasak tumis atau lalapan sebanyak kebutuhan 2 kali sehari.
·        Buah pala, ditumbuk sampai halus kemudian diseduh dengan segelas air panas, setelah suam‑suam kuku baru diminum dan lakukan 2 kali sehari.
·        Akar dan daun kaki kuda, masing‑masing 0,5 genggam direbus dengan gelas air den biarkan mendidih hingga tinggal 1‑2 gelas, setelah dingin disaring dan diminum segelas 2 kali sehari.
·        Daun sangket, sediakan 3 genggam dan direbus dengan air sebanyak 2 ember sampai mendidih. Air rebusan dipakai untuk mandi, lakukan 2 kali sehari.
·        1 buah pisang masak (dipotong-potong), havennuth secukupnya, dan 1 gelas susu direbus sebentar. Setelah agak dingin dimakan.
·        60 gram kaktus yang sudah dikupas kulitnya dipotong-potong kemudian direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Setelah itu, airnya diminum selagi hangat.
·        Kangkung secukupnya dicuci bersih, direbus atau ditumis, kemudian dimakan.
Pilih satu resep tersedia dan lakukan secara teratur 2 kali sehari.
Hindari  pel tidur
            Oba tidur punya dampak berbahaya bagi kesehatan. Sebab obat tidur hanya mengobati pengaruh dan bukan mengobati penyebab insonmnianya. Si penderita mestinya berusaha mengatasi masalah yang dihadapi. Jika masalahnya adalah putus cinta misalnya, maka perbaikilah hubungan dengan sang pacar (kekasih), bukan malahan menelan obat tidur. Obat  tidur dan obat penenang lainnya tak akan menyebabkan seseorang tertidur dengan nyenyak dan tidak membantu mengembalikan pola tidur yang alami.
Tidurlah yang wajar
            Kita tak perlu risau dengan jumlah jam tidur, yang penting kita merasa segar setelah bangun. Tidur yang nyenyak di saat gelombang-gelombang otak seseorang menjadi lambat sangatlah penting. kalau kita tidak tidur selama beberapa hari, kita hanya perlu menggantinya 20% dari keseluruhan jumlah tidur kita.
            Penelitian menunjukkan, seseorang hanya memerlukan tidur selama putus 12-24 jam untuk mengganti saat-saat hilangnya waktu tidur secara tiba-tiba.
Pengaruh Obat (withdrawal effects)
            Pengaruh obat yang menimbulkan keaktifan seperti vitamin, pengaruh kopi, teh dan alkohol ikut berperan. Perubahan lingkungan juga dapat menimbulkan kesulitan tidur.
            Pekerja shift malam banyak yang menderita insomnia. Rasa sakit atau penyakit seperti rematik dan infeksi  sering direfleksikan dalam kesulitan fidur. Depresi sering didagnosa sebagai insomnia. Karena penderita kurang mampu mempertahankan  tidur nyenyak. Gejala lain adalah menurunnya berat badan, kurang nafsu makan, kurang semangat, kehilangan minat terhadap hal-hal yang  menarik.
            Alkohol termasuk kategori zat depressan. Mula-mula ia menimbulkan rasa kantuk, namun setelah kadar alkohol dalam darah mulai  menurun akan menghilangkan rasa kantuk tadi.
Referensi :
Tarmizi, Apakah Anda Terkena Insomnia? (Harian Singgalang, 19‑08­-1999) Padang.
Didik Sudijanto, Pengobatan Alternatif pada Insomnia, Panasea No.85, Juli 1994) Jakarta.
Prof.Hembing WK, “Penyembuhan dengan Tumbuhan Obat”, Komputindo, 2003, jkt.
Tarmizi, B.Sc, S.Pd

Tumbuhan Obat

Followers